Minggu, 23 April 2017

YOU ARE GOOD MAN (CERITA BERMALAM DI MUZDALIFAH)

Assalammualaikum Wr. Wb,

Penulis akan menceritakan suatu pengalaman dari menjalankan ibadah Haji tahun 2014 dimana penulis berjumpa dengan orang dari Amerika Serikat yang mengatakan bahwa penulis itu adalah orang baik "You are good man" sewaktu penulis bermalam di Muzdalifah. Maaf penulis tidak bermaksud Riya atau bagaimana, tapi disini penulis ingin berbagi cerita untuk mencari kebaikan dan pahala Allah, Karena apa pun yang kita perbuat baik di dunia di ketahui oleh orang lain dan juga Allah.

Waktu penulis menunaikan ibadah haji adalah penulis punya niatan disamping menyambut panggilan Allah, menjaga muhrim istri dan juga punya niatan berbuat baik kepada orang lain selama di kota suci Makkah dan Madinah. Tapi bukan berarti penulis tidak pernah berbuat baik selama menjalani kehidupan. Tapi penulis tidak mau cerita bagaimana penulis berbuat baik selama hidup tapi intinya perbanyak bersedekah dan menyantuni anak yatim.

Anggap saja seperti cerita sebelumnya dimana penulis membantu seorang kakek masuk ke Hijir Ismail , penulis anggap salah satu carai berbuat baik kepada sesama manusia. 

Singkat cerita, waktu itu setelah jemaah haji berdiam di Arafah dan setelah matahari terbenam kami pun beranjak menuju ke Muzdalifah, untuk bermalam di sana. Dan sesampainya di Muzdalifah, kami pun berdiam dan duduk di lokasi dekat Toilet Umum. Dan tentunya banyak orang yang berlalu lalang di sana.

Kami waktu itu dibekali hanya mie istant (Pop Mie) sehingga setibanya kami di Muzdalifah, kami membeli Air Panas dengan Harga 1 Real untuk memasak mie instant tersebut dan juga minum teh yang tidak pahit. Jadi makan malam sewaktu di Muzdalifah adalah makan mie istant yang dikemas dalam pop mie. Memang tidak mudah mencari makanan di areal Muzdalifah. Yang hanya adalah tanah lapang dan toilet umum serta manusia.

Kami berencana menghabiskan 2/3 malam di sana. Setelah sampai di sana, kami pun berwudhu dan melaksanakan sholat Maghrib dan Isya dijamak dan berjamaah. Setelah itu kami pun tidur dan berusaha untuk tidur. Udara pada waktu itu panas karena mungkin banyak orang disekitar sana tapi mungkin terasa dingin dari hawa yang keluar dari Toilet Umum yang berada di dekat kami.

Seperti sebelumnya, penulis mempunyai kebiasaan jelek yaitu suka terbangun di malam hari, jadi mungkin pada waktu itu penulis terbangun pukul 12 malam dan penulis pun duduk dan melihat di sekitar, dimana masih banyak saja orang berlalu lalang di sekitar kami dan memang karena kami tidur di dekat toilet umum dimana banyak orang yang mau mandi, buang air kecil maupun besar. Dan termasuk saya juga.

photo diambil dari atas Toilet Umum
Ketika terbangun , penulis mempunyai planning untuk ke toilet dan setelah itu mencari batu untuk melempar jumroh baik untuk diri sendiri maupun untuk istri saya. Sebelum ke toilet penulis membaca surah Yasin terlebih dahulu untuk memanfaatkan waktu berada disana, melaksanakan sholat tahajjud dan witir dan akhirnya membuat hajat besar maupun kecil di toilet umum di dekat kami tidur.

Saat penulis melangkah ke toilet umum, terlihat pimpinan rombongan haji tidur di tempat dimana orang berlalu lalang dan herannya beliau bisa tidur padahal tentunya banyak dilangkahi orang saat orang berjalan.

Setelah kembali dari Toilet Umum dan melangkah ke pinggiran Toilet umum tersebut, penulis melihat banyak sekali bebatuan yang ada disekitarnya. Tapi sebelumnya penulis sudah survey sebelum tidur dan mungkin membantu orang mencari batu-batu tersebut tapi kebiasaan jelek penulis adalah suka menunda-nunda pekerjaan.

Akhirnya penulis jongkok dan sibuk mencari-cari batu-batu untuk melempar jumroh. Ketika penulis memilih batu-batu yang ada di halaman sekitar toilet umum , Tiba-tiba. ada seorang gadis dari Afrika karena badannya rada hitam dan duduk jongkok di sebelah saya dan sibuk juga mencari batu-batuan.
Dan akhirnya dia mengajak ngobrol penulis dan bertanya dalam bahasa English (tapi dalam cerita ini penulis akan mentranslate ke dalam bahasa Indonesia...red)

"Assalammualaikum," sapanya

Jemaah Haji tidur berdiam 2/3 malam di Muzdalifah
"Waalaikum salam," Jawab saya, sebenarnya penulis berharap ada wanita cantik dan putih disebelah penulis yang mencari batu tapi walaupun hitam tapi nampaknya cantik. karena penulis lihat wajahnya masih muda. dan pada waktu itu nampaknya dia berdua dengan temannya atau mamaknya. karena yang satunya terlihat lebih tua dari dia.

"Tahukah kami sebesar apa batu yang perlu kita siapkan untuk melempar jumroh", tanya dia lagi

"Ada baiknya batu-batunya tidak perlu besar-besar dan cukup ukuran seperti ini "jawab saya menunjukkan batu-batu yang saya telah pilih.

"Lagian sebenarnya yang kita lempar itu adalah sifat jelek kita atau diri kita atau setan yang ada didiri kita atau hawa nafsu kita (pilih saja mana yang baik menurut pembaca...red) . Tiang itu cerminan dari setan yang ada diri kita." jawab menjelaskannya kembali. Saya dengar cerita dari Ustaz mengenai Melempar Jumroh sehingga saya bisa cerita ke cewek itu.

"Lagipun tempat lempar jumrohnya lebar dan luar, sehingga dengan batu kecil seperti ini akan sampai mengenai tiang simbol setan tersebut", jawab saya lagi.

"Oh oke saya mengerti dan jadi batu sebesar ini boleh", katanya lagi

"Ya boleh saja, jadi seperti itu dan disini banyak ", jawab saya.

Setelah itu dia mengucapkan terima kasih dan sama-sama mencari batu dan entah kenapa setelah itu tidak ada percakapan lagi dan nampaknya dia asyik mencari batu dengan temannya .

Setelah saya selesai mencari batu untuk melempar Jumroh dan saya rasa cukup untuk istri dan saya, akhirnya saya berdiri sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba saya disapa orang lagi.

"You are good man", sapa dia sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Tidur dengan rapi dan ikhlas mengharap ridho Allah
"Thanks ", jawab saya salah tingkah karena tidak menyangka akan ada orang yang menyapa saya. Saya pun tidak tahu darimana dia tahu saya orang baik (hehehehe) , apakah dia selama ini memperhatikan saya dimana saya berada atau sesaat dimana kala itu membantu wanita Afrika mencari batu-batuan.

Perawakannya kurus proporsi dan tingginya lebih sedikit dari saya  (tinggi saya 176 cm) dan berjanggut , berambut gondrong dan memakai baju ihram.

Untuk menghilangkan kebisuan sesaat dan juga rasa GR yang berlebihan karena dibilang "Orang Baik" maka saya pun bertanya

"Kamu dari mana? "

Dan dia menjawab kalau dia dari kota kecil di Amerika Serikat, dan dia menyebutkan nama kotanya tapi saya lupa pastinya nama kotanya. Mungkin saja Memphis dan dia menyebut semua komunitas kecil di Memphis. Dan namanya pun lupa. Dan saya lupa berphoto bersama dia waktu itu.

Saya bilang saya dari Indonesia tapi mengambil haji dari Australia karena saya tinggal di Canberra.

Setelah itu kami berdua pamitan karena dia mau melanjutkan perjalanannya, mungkin saja mencari rombongannya karena waktu itu dia hanya melintas melewati rombongan jemaah haji kami yang tidur di sebelah toilet. Dan saya pun kembali ke rombongan dan duduk kembali ke tikar saya dan kembali untuk tidur.

Terus terang saya tidak tahu siapa laki-laki itu dan waktu itu saya anggap hal yang biasa karena saya biasa di tegur dan di sapa orang saat menjalankan ibadah Haji. Yang herannya kok dia tiba bilang saya ini orang baik dan dari mana dia tahu atau apakah dia lihat kebaikan saya , padahal jamaah haji yang berada di tanah suci itu lebih dari dua juta orang. Dan saya pun tidak pernah melihat orang itu dan juga untuk Amerika Serikat tidak satu tenda di Mina.

Saya sempat beranggapan bahwa itu adalah Nabi Khidir tapi setelah saya baca-baca dan bertanya ke orang yang ngerti agama dalah bahwa Nabi Khidir sudah wafat.

Hikmah dari cerita ini adalah kita tidak tahu apakah ada yang memperhatikan pada saat kita berbuat baik dengan sesama mahluk hidup, kita tidak tahu apakah ada yang mencatat kebaikan kita tapi kita hanya menjalankan dan melaksanakan sikap berbuat baik hanya karena ingin berbakti kepada Allah dan mendapat ridho dari Allah.

Penulis bukan orang baik karena masih banyak orang yang tak suka dengan penulis tapi penulis selalu berniat untuk membantu orang lain dan mencari kebaikan semata-mata karena Allah.

Lelaki itu saya tidak tahu siapa dan kenapa dia bisa bilang " You are Good Man" dan menyodorkan tanggannya kepada penulis untuk bersalaman

Semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat sombong

Wasaalam

23 April 2017








MAAF ISTRIKU, AKU TIDAK BISA MENGAJAKMU KE HIJIR ISMAIL

Assalammualaikum,

Dibawa ini adalah cerita lainnya ketika sedang berada di Hijir Ismail saat menjalankan ibadah Haji tahun 2014 yang lalu. Berikut kisah yang terjadi dan ini adalah copy paste dari blog saya yang lainnya.

Ada sedikit rasa bersalah kepada istriku saat aku menceritakan kesan-kesanku pada saat naik haji beberapa bulan yang lalu dihadapan teman-teman pengajian dimana aku berkumpul untuk menambah rasa keimananku kepada Allah.
Aku ceritakan bahwa aku setiap hari masuk ke dalam hijir ismail baik itu di kala pagi, siang ataupun malam Anggaplah aku merasa bangga karena setiap keinginanku untuk masuk ke dalam Hijir Ismail, dikabulkan oleh Allah. Apalagi aku sempat memandu orang tua asal Jawa Tengah Untuk masuk ke dalam Hijir Ismail.


Ramainya Jemaah Haji yang memadati Hijir Ismail



Jemaah Haji Indonesia sedang Sholat Sunnah
Aku baru sadar bahwa rasa ketidak sukaan istriku dikarenakan aku pergi sendirian tanpa mengajak dia ke Hijir Ismail. Tapi aku punya alasan tersendiri kenapa aku tidak bisa mengajak istriku ke dalam Hijir Ismail untuk sholat sunnah ataupun berdoa kepada Allah. Alasannya bahwa Aku Tidak Bisa Menjaga Muhrimku saat aku berusaha masuk dan bertahan di dalam Hijir Ismail. Karena masuk ke dalam Hijir Ismail di musim haji ini, ibarat masuk ke dalam suatu tempat yang sempit dan belum bisa dipastikan kapan bisa keluar dari tempat itu kecuali berdoa kepada Allah. Juga saat memasuki Hijir Ismail pun tergantung kata hatiku, kalau kata hatiku bilang "Kita bisa masuk sekarang" maka aku masuk dan bila tidak boleh masuk, tidak ada celetukan di dalam hatiku.

Aku setiap mau masuk ke dalam Hijir Ismail, pertama yang kulakukan adalah membaca Al Qur'an minimal 1 juz. Ya Aku membaca Al Qur'an 1 juz, dengan harapan Allah memberiku kekuatan untuk bisa masuk ke dalam Hijir Ismail. Dan juga perasaan saya apabila saya telah membaca Al Qur'an , badanku terasa kuat dan perasaan seluruh badanku baik tangan, kaki, hati maupun pikiranku, Ikhlas membawaku ke dalam Hijir Ismail. Mungkin itulah terapi yang kulakukan agar aku bisa menembus masuk ke dalam Hijir Ismail di Kala Musim Haji.

Jadi saya memang sengaja tidak mengajak istri saya ke dalam Hijir Ismail, dengan beberapa alasan, yaitu : (Coba lihat dalam gambar di atas..red)


1. Aku terus terang tidak akan bisa menjaga Muhrim Istiku saat ingin masuk dan keluar, dikarenakan pintu masuknya cuma satu dan hanya berukuran sekitar 4-5 meter saja.Dan tentunya berhimpit-himpitan dan tentunya pelecehan seksual akan terjadi di sana baik sengaja atau tidak sengaja.


2. Kalau dilihat pada gambar, berapa persenkah wanita berada di dalam Hijir Ismail? Tentunya tidak sebesar persentase pria. Jadi wanita bisa menjadi obyek pelecehan seksual kan?


3. Aku saja kadang tidak bisa menjaga diriku atau barang yang kubawa saat berada di dalam sana, karena aku harus mengikuti arus manusia yang mau masuk ataupun mau keluar. Dan mungkin saja Hp saya hilang saat saya mengajak orang tua untuk masuk ke dalam sana. Sehingga aku lalai dengan barang-barang yang kubawa, Alapagi bila aku harus menjaga istriku saat berada di sana.

4, Aku juga secara tidak sengaja melakukan pelecehan seksual ketika tanganku menyentuh dada seorang wanita karena saat itu aku sedang melindungi orang lain yang sedang sholat sunnah dan wanita itu mendapat dorongan dari belakang dan akhirnya mengenai tanganku, Aku pun terkejut dan meminta maaf serta berusaha melepaskan tangan dari himpitan dadanya walau akhirnya laki-laki yang kulindungi saat sholat terganggu karena aku melepaskan perlindunganku.


5. Orang2 di dalam sana, kebanyakan sudah banyak dimiliki oleh setan sehingga tidak ada lagi rasa pengertian dan rasa sabar dan santun karena semua punya keinginan yang sama untuk beribadah kepada Allah. Tapi tentunya Allah memikirkan ibadah mereka yang menzalimi orang lain saat beribadah kepada Allah di dalam Hijir Ismail.


Dan lagi saat saya berada di dalam sana, ada seorang ibu-ibu kerasukan setan, karena mukanya menunjukkan rasa marah dan memukul-mukul seorang laki-laki yang tengah berdoa sambil memegang dinding Kabah. Mungkin sekitar 5-6 kali atau lebih, ibu itu tanpa sadar memukul. Akhirnya akhirnya saya bisa bilang ke Ibu itu,"Bu! jangan kayak begitu, Ini rumah Allah, harusnya ibu berbuat baik. Macam mana ibu mau haji kayak begini...!! Dan akhirnya teman ibu itu menyadarkan dia dan berusaha memegang tangannya agar tidak memukul lelaki itu.


6. Untuk sholat sunnah dan berdoa saja susah dan harus pandai-pandai berbuat baik kepada orang lain, agar pada saat kita sholat sunnah, kita tidak diinjak-injak orang pada saat sujud. Maksudnya kita berusaha menjaga orang lain saat dia sholat dan saat berdoa. Sering kali saya mengingatkan orang yang sujudnya berlama-lama, agar tidak berlama-lama saat sujud dan saat sholat, karena resiko diinjak-injak orang, bisa saja terjadi. Malah ada sekelompok orang yang sholat di dekat pintu masuk Hijir Ismail.

Jadi kesimpulan dari cerita di atas bahwa Aku tidak mengajak istriku ke dalam Hijir Ismail saat musim haji dikarenakan Aku tidak bisa menjaga muhrimnya, orang-orang di dalam sana sudah dirasuki oleh setan karena tidak sabar, punya emosi tinggi dan kadang berantem satu sama lain untuk mendapatkan posisi yang pas untuk sholat, terjadi pelecehan seksual baik sengaja maupun tidak sengaja dan tidak aman bagi seorang wanita berada di dalam sana saat musim Haji.

Insya Allah, bila umurku panjang, punya rejeki dan uang yang melimpah dan aku masih bersama istriku dalam rumah tangga, aku akan mengajak istriku dan anak-anakku dalam Hijir Ismail saat Umroh, karena Insya Allah aku bisa menjaga mereka saat masuk, keluar dan berada di dalam Hijir Ismail.

Insya Allah, istriku bisa mengerti alasan-alasan tersebut diatas..Dan bisa memaafkan kesalahanku untuk tidak membawa dia ke dalam Hijir Ismail di waktu musim Haji.

Canberra, 30 November 2014.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

Note :
Saat Kami melakukan Haji Wada, saya tidak melihat lagi orang bertebaran di dalam Hijir Ismail. Dan saya mendapat alasan bahwa tidak aman bila Hijir Ismail di buka saat kondisi jemaah Haji yang membeludak seperti itu. Karena memasuki Rumah Allah, kita harus sabar dan ikhlas bila ingin mendapat senyuman yang terindah dari Malaikat penjaga Hijir Ismail.    


 cerita ini pernah dibuat di blog saya yang lain.
   https://pujanggapiping.blogspot.co.id/2014/11/kenapa-aku-tidak-mengajak-istriku-ke.html                     

Sabtu, 22 April 2017

MARI SAYA AJAK KAKEK KE HIJIR ISMAIL?

Assalammualaikum Wr. Wb,

Penulis akan bercerita kembali pengalaman penulis saat menunaikan Ibadah Haji tahun 2014 lalu. Dan salah satu cerita saya adalah ketika saya Alhamdulillah bisa membawa seorang kakek dari Jawa Tengah masuk ke dalam Hijir Ismail. 

Sekali lagi ada bisikan di hati saya untuk membawa Kakek tersebut ke dalam Hijir Ismail.

Sore itu, penulis datang ke Masjidil Haram untuk menunakai sholat Asyar dan Sambil menunggu sholat Maghrib  dan biasanya penulis duduk di lantai pertama yang menghadap ke Ka'bah. Dan lokasi tersebut menurut penulis nyaman sehingga penulis betah berlama-lama di dalam Masjidil Haram. Penulis pun asyik membaca surah-surah dalam Al Qur'an karena penulis berusaha untuk mengkatamkan bacaan Al Qur'an selama menjalankan Ibadah Haji . (Tapi belum Katam juga..red)

Ketika penulis duduk bersila sambil membaca Al Qur'an di Hp, penulis lihat ada seorang kakek yan berwajah orang Indonesia dan Keturunan Jawa. Dan penulis lihat kakek itu hanya diam dan bengong-bengong saja. Akhirnya penulis menyapa kakek itu.

"Dari Indonesia, Pak?" sama penulis.

"Iya, Pak," jawabnya lagi.

"Sendiri saja Pak dan istri tak ikutan" ? tanya saya lagi.

" Ya Pak, Istri saya sudah mennggal", jawabnya lagi..

"Innalillahi wainnalillahi rojiun, Maaf Pak,"Jawab saya 

"Asal dari mana, dan sama siapa kesini, Pak "tanya dia lagi

"Saya Indonesia tapi Haji kami dari Australia, Jawab saya 

Sebenarnya kakek itu bingung mendengar penjelasan saya. 

"Khan di Australia banyak orang Indonesia nya dan naik hajinya mudah, tidak perlu nunggu lama"

"Kalau saya sudah tinggal lebih dari dua tahun, kita bisa naik haji dari Australia, Pak"

"Saya berangkat sama Istri , Pak tapi istri saya nggak ikut saya karena dia sama teman-temannya", jawab saya panjang lebar.

"Bapak dari mana?"tanya saya

Hijir Ismail saat sholat wajib dilaksanakan
"Saya dari ..... (saya lupa nama daerahnya tapi antara Klaten dan Boyolali atau kota lain di Jawa Tengah...red) dan sekarang yach menjaga cucu karena anak saya kerja dan saya pensiunan", Jawa saya lagi.

Saya lihat sosok kakek itu masih sehat dan nampaknya dia sendirian juga di sana karena saya lihat di sekitar saya nggak ada orang Indonesianya. Nampaknya kami saja yang orang Indonesia di sana.

"Bapak sudah masuk ke dalam Hijir Ismail, Mencium Hajar Aswad dan menyentuh rukun Yamani" tanya saya ..

"Belum Pak, mana saya berani ..apalagi kondisinya ramai seperti itu", jawab dia dengan rada sedih. Terpancar keinginan dari matanya untuk pengen sekali berada di dalam Hijir Ismail.

Akhirnya saya terdiam dan kakek itu pun diam dan saya pun melanjutkan bacaan saya dalam membaca Ayat-Ayat Al Qur'an sambil saya berpikir mengenai kakek itu. 


Hijir Ismail ketika sedang ramai
Hati saya berkecamuk pada waktu itu karena saya sebenarnya sudah mengakhiri perjalanan saya ke dalam Hijir Ismail dimana hampir setiap hari baik siang dan malam saya selalu berada di dalam Hijir Ismail baik untuk berdo'a, sholat sunnah maupun kegiatan lainnya. Jadi sebenarnya bagi saya sudah sangat cukup untuk kembali ke dalam Hijir Ismail karena ingin memberi kesempatan kepada orang lain untuk masuk ke Hijir Ismail. Hati saya pada waktu itu berkecamuk antara ingin mengajak kakek itu ke dalam Hijir Ismail atau mengikuti keinginan lainnya yaitu sudah cukup masuk ke dalam sana.

"Bapak mau saya ajak masuk ke dalam Hijir Ismail?", tanya saya akhirnya.

"Saya mau sekali, Pak", Jawab dia dengan rasa senang.

"Baiklah Pak, yang penting Bapak ada di belakang saya, baca Ayat Kursi dan ikut arahan saya,"kata saya lagi. 

"Tapi tidak sekarang yach Pak, nanti selepas Sholat Maghrib kita masuk ke dalam ", kata saya lagi.

Setelah dia setuju, akhirnya saya kembali membaca Ayat-ayat Al Qur'an dan memperbanyak bacaannya karena bagi saya Bacaan Al Qur'an itu bisa menambah Adrenalin atau kekuatan saya untuk bisa masuk ke dalam Hijir Ismail dan juga selalu dari kata hati yang memperkuat keinginan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail. 

  
Akhirnya setelah sholat Maghrib, kami bersiap-siap dan berjalan menuju ke lokasi tempat thawaf di lantai bawah dan kakek itu mengikuti saya. Alhamdulillah, saya sudah banyak tahu mengenai Masjidil Haram sehingga saya tahu dimana jalan yang terdekat untuk masuk ke areal Ka'bah dan Bapak terus mengikuti saya dari belakang dan saya selalu menengok belakang untuk memastikan bahwa kakek itu masih berada di belakang saya.

Ketika sudah sampai di areal Kabah, kami pun bersiap diri dan saya pesankan kepada kakek itu bahwa kita bukan ingin melaksanakan thawaf tapi kalau kita ingin masuk ke dalam Hijir Ismail , kita harus mengikuti arah putaran orang yang melakukan Thawaf. 

"Nanti Bapak jangan lupa baca ayat kursi dan memegang rompi saya ini", kata saya sambil menunjukkan dimana harus kakek itu pegang.

"Baik kalai bapak paham, mari kita masuk ke dalam Hijir Ismail, Bismillah", kata saya lagi.

Akhirnya kami pun merapat ke barisan orang yang melakukan thawaf, putaran pertama, kami masih mengikuti arah putaran orang melakukan thawaf dan putaran kedua sudah mulai masuk ke posisi terdekat dari kabah dan putaran ketiga kami sudah mencapai rukun Yamani dan saya minta kakek itu untuk menyentuh rukun Yamani . karena posisi pada waktu itu rukun Yamani tidak terlalu rame. Setelah menyentuh rukun Yamani akhirnya kami tiba ke lokasi Hajar Aswad dan kami ditawari oleh dua orang perempuan, orang Indonesia untuk mencium Hajar Aswad, tapi kami menolaknya.

"Bapak nggak apa-apa khan tidak mencium Hajar Aswad?"karena saya sendiri pun tidak berani. Karena terlihat orang seperti semut yang mencari makan di sebuah permen. "kata saya .

"Nggak apa-apa Pak, "Jawab dia lagi.

Akhirnya kami melanjutkan melakukan putaran berikut nya karena saya masih belum punya kesempatan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail dan akhirnya saya lihat ada celah untuk masuk ke dalam Hijir Ismail dan saya bilang ke kakek itu , kita masuk , 

Akhirnya kami mencoba masuk ke dalam Hijir Ismail, walaupun berdesak-desakan dan saya minta kakek itu membaca Ayat Kursi dan penulis lihat bapak itu mendorong orang yang menghalangi nya dan akhirnya saya tegur kakek itu 

"Pak! tak boleh begitu ..jangan emosi dan sabar. Itu cobaan kita. Kalau Bapak pakai Emosi, kita tidak bisa masuk ke dalam Hijir Ismail karena kebanyakan manusia yang mencoba masuk ke dalam sini, membawa hawa nafsu sehingga cenderung mereka menzolomi orang lain", kata saya.

"Eh Maaf Pak..", Jawab dia lagi.

Akhirnya kami berhasil masuk ke dalam Hijir Ismail dan saya ajak bapak itu ke tengah dan terlihat posisi yang baik. Saya minta Bapak itu untuk melakukan sholat sunnah dua rakaat dan berdo'a untuk Alm. istrinya dan keluarganya. Dan saya hanya mencoba menjaga kakek itu agar tidak terinjak-injak oleh orang yang berdesakan di dalam Hijir Ismail. Caranya yach dengan memasang tangan penulis sebagai pagar kakek itu. 

Penulis waktu itu tidak melakukan sholat sunnah karena penulis hanya berdo'a dan menjaga kakek itu supaya tidak terinjak saat sholat sunnah. Dan ada sekitar 15 menit kakek itu berdo'a dan saya pun meminta kakek itu mempercepat do'a nya karena melihat kondisi pada waktu itu sudah mulai ramai dan berdesakan. Saya pun khawatir kalau nanti terlalu lama di dalam Hijir Ismail. Kakek itu bisa pingsan. 

Semasa kakek itu melakukan sholat sunnah dan berdo'a , penulis pun berpikir bagaimana caranya untuk keluar. Saat Kakek itu selesai melaksanakan sholat sunnah dan do'a, akhirnya kami pun keluar dari Hijir Ismail dan tak lupa saya minta kakek itu membaca ayat kursi selama kami mencoba keluar dari Hijir Ismail dan dengan mengikuti putaran orang yang melakukan Thawaf, akhirnya kami pun berada di posisi aman.

"Pak , kita sudah selesai dan bapak masih kuat kah? Tahu jalan pulang kah? tanya saya .

Saling membantu membuat pagar orang sholat di dalam Hijir Ismail
"Ya jawabnya. sambil mengucapkan terima kasih, akhirnya Bapak itu berjalan menuju ke tempat orang melakukan Sa'i dan saya pun keluar dari Masjidil Haram menuju ke Hotel kami di Zam Zam Tower unuk makan malam karena istri saya sudah menelpon 

Hikmah dari cerita ini adalah niat baik menolong orang yang ingin beribadah kepada Allah dengan mengikuti ritual-ritual yang dilakukan, semua itu tergantung keimanan kita kepada Allah.

Maaf saya bukan orang baik, tapi berusaha untuk menjadi baik dan mencari pahala dari Allah. 

Mudah-mudahan kita semua yang berangkat Umroh atau Haji bisa mendapat kesempatan untuk masuk ke Hijir Ismail. Karena banyak teman yang berangkat Haji bareng, tidak punya kesempatan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail.

Jumat, 21 April 2017

KETIKA PAKAIAN IHRAM MU MINTA KEADILAN

Assalammualaikum Wr Wb.

Penulis mencoba menuliskan kembali kisah yang dialami penulis saat menunaikan ibadah Haji tahun 2014 yang lalu. Mohon Maaf, Penulis tidak ada bermaksud Riya tapi hanya ingin berbagi kebaikan mengenai apa yang dialami 

IHRAM adalah keadaan seseorang yang telah beniat untuk melaksanakan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang melakukan ihram disebut dengan istilah tunggal "muhrim" dan jamak "muhrimun". Calon jamaah haji dan umrah harus melaksanakannya sebelum di miqat dan diakhiri dengan tahallul.

Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan. Sedangkan pakaian wanita ihram adalah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan (seperti pakaian ketika sholat). Warna pakaian ihram disunatkan putih.

Ketika ihram diharamkan baginya melakukan perbuatan tertentu seperti memakai pakaian berjahit, menutup kepala (bagi lelaki) dan muka (bagi perempuan), bersetubuh, menikah, melontarkan ucapan kotor, membunuh binatang dan tumbuhan, memotong rambut/ kuku, dan lain-lain.

https://id.wikipedia.org/wiki/Ihram


Seperti tertulis diatas bahwa Pakaian Ihram itu terdiri dari dua helai yang berwarna putih, dimana yang satu diselendangkan dan satu lagi di pakai untuk menutup aurat. Cerita mengenai pakaian Ihram yang minta keadilan adalah sebagai berikut. 

Ketika penulis berada di Mina, Muzdalifah dan Arafah, penulis selalu memakai Pakaian ihram dan waktu cukup lama untuk memakai pakaian ihram. Jadi selama itu selembar pakaian ihram yang ada diatas, penulis pakai di atas dan yang sehelai lagi penulis pakai untuk menutup Aurat. Jadi mungki selama tiga hari tidak pernah berganti posisi. 

Anggaplah penulis terlalu banyak sugestinya , istri penulis pun bicara begitu. Selalu saja menghubungkan hal-hal yang gaib dan yang tak masuk akan dalam pikiran dan menggabungkannya dengan kegiatan fisik sehari-hari. 

Suatu ketika, mungkin itu hari ketiga atau keempat kami berada di Mina (maaf penulis lupa), penulis mandi pagi hari dan ketika selesai mandi, penulis merasa bahwa selembar pakaian ihram yang digunakan untuk selendang terasa berat dan tak tahu kenapa , pada waktu itu saat mau memakai selendang ihram. pakaian tersebut terasa berat. 
Tiba-tiba ada sebersit bisikan di hati , "Dia itu mau minta di bawah". Dan penulis karena selalu mendengarkan bisikan hati selama menunaikan Ibadah Haji. Maka penulis pun segera menukar pakaian ihram dimana helai pakaian ihram yang dipakai di bawah di pindah ke atas dan sedangkan yang dipakai di atas pindah ke bawah (menutup Aurat). 

Dalam hati penulis berujar" Pakaian Ihram pun minta keadilan kepada kita dan begini cara Allah mengajarkan kita mengenai keadilan. Dan anehnya adalah saat proses penukaran lokasi pakaian ihram di tubuh penulis selesai. Selebar Ihram yang dipakai diatas terasa ringan dan yang dipakai dibawah pun ringan.

Tapi kalau secara logika, bisa saja sewaktu penulis mandi, Air Shower yang dipakai memercikkan air ke pakaian Ihram penulis sehingga menjadi berat . Tapi itu terserah masing-masing anda untuk mensikapi tulisan ini. 

INFO :
Untuk teman-teman yang ingin menunaikan Ibadah Haji, karena waktu kita memakai Ihramnya lama, maka penulis sarankan agar bisa membeli sehelai lagi pakaian ihram sebagai spare /cadangan bilamana pakaian ihram yang anda gunakan terkena najis. Jadi bilamana terkena Nazis tentunya yang satu bisa dipakai dan satu bisa di cuci. Penulis banyak melihat orang memakai pakaian ihram tapi ada noda bekas nazis kotoran manusia melekat pada pakaian ihramnya. Baik di sewaktu ke toilet atau saat melaksanakan umroh. Tapi yang penting banyak istiqfar saja, membaca Ayat Kursi dan Surah lainya. 
dan bermohon kepada Allah agar kita semua terhindar dari segala macam masalah saat melaksanakan Haji dan Umroh.
Saya menggunakan cadangan satu helai. Walau tidak pernah dipakai tapi bisa bermanfaat bagi teman kita lainnya dimana kadang saat tidur Auratnya terbuka.

Dan juga sering ganti ganti posisi dalam menggunakan pakaian ihram dimana yang atas ke bawah dan yang bawah ke atas agar bisa adil. Ini hanya cerita saya alami tapi bilamana tidak mempercayai cerita ini pun tak apa-apa.



 Pekanbaru , 22 April 2017







SETEGUK AIR ZAM-ZAM MENGIRINGIKU PUASA SUNNAH SENIN KAMIS

Assalammualaikum,

Ini kisah adalah cerita sebenarnya saat penulis tengah menjalani Ibadah Haji tahun 2014. Ketika itu saat di Madinah. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk Puasa di Hari Kamis dimana pada waktu itu saya tidak punya niatan atau bisikan hati untuk melakukan puasa di Hari Senin, dimana kita ketahui kami tiba di Madinah pada hari Senin Pagi.

Malam itu , malam rabu dan penulis sehabis makan malam, dan sholat Isya, tiba-tiba ada terbersit di Hati untuk melakukan Puasa di Hari Senin Kamis. Tapi waktu itu puasa nya jadinya Puasa Sunah Kamis. Penulis sudah mempunyai rencana matang untuk mencari makan sahur di malam hari sebelum tidur. Semua rencana sudah matang banget dan Penulis juga beranggapan pastinya banyak orang yang akan berpuasa di hari Kamis dan mungkin saja kedai makanan dan minuman masih buka sampai subuh.

Namun, saat penulis terbangun pukul satu malam, penulis pun keluar dari hotel untuk mencari makan di sekitaran hotel dan Masjid Nabawi..Saat penulis melangkahkan kaki keluar hotel, di luar ternyata sepi dan sunyi serta gelap. Penulis pun berjalan ke arah Masjid Nabawi dan berharap ada toko yang buka di kawasan itu. Dan ternyata memang belum buka.

Akhirnya penulis pun memutuskan untuk kembali ke Hotel karena penulis berpikir masih ada roti yang tersisa sebelumnya. Saat penulis di kamar, penulis makan sisa-sisa roti dan Air Zam-Zam. Penulis niatin puasa sunnah kami dan meminta Allah bisa membantu penulis untuk bisa menyelesaikan puasa di Hari Kamis sampai masuk waktu Maghrib.

Setelah memakan sisa roti, sekitar pukul 1.30 pagi, penulis pun berangkat ke masjid Nabawi untuk Sholat Tahajjud dan juga bermain-main di Taman Surga Raudoh. Penulis punya kebiasaan jelek dimana kalau belum makan nasi rasanya masih terasa lapar saja. Tapi dengan keyakinan yang kuat untuk melakukan puasa Kamis, maka sebelum masuk waktu subuh, penulis pun meminum air zam-zam sebanyak-banyaknya agar perut terasa kenyang. Mungkin lebih dari 2 liter penulis minum air zam-zam. Dan Alhamdulillah akhirnya Alhamdulillah, penulis mampu mencapai sore hari.

Sore itu sebelum masuk subuh, penulis masuk ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dan penulis pun sudah mempersiapkan minuman berbuka yaitu air zam-zam.

Tiba-tiba sebelum masuk Maghrib, ada selendang putih di pasang di depan saya, dimana saya duduk oleh pengurus masjid nabawi, terlihat banyak anak-anak muda sedang merapikan selendang tersebut dan meletakkan beberapa makanan dan minuman di atas nya.

Kulihat banyak jemaah masjid pada waktu itu duduk di depan selendang putih (membentuk meja) dan saling berpandangan sesama lainnya termasuk penulis juga. Jemaah haji dimanapun berkumpul di depan selendang, Penulis lihat banyak juga di sediakan makanan kecil untuk berbuka puasa..

Menu hidangan berbuka puasa di Masjdi Nabawi
Penulis lihat banyak orang yang masih duduk berhadap-hadapan untuk menunggu waktu buka puasa tiba Dan terus teras saya tidak tahu jam berapa pas nya masuk maghrib tiba. Penulis lihat, pengurus masjid Nabawi menuangkan teh ke gelas-gelas (saya tahu rasanya tidak enak) dan membagikannya ke Jemaah yang tengah duduk tadi untuk diletakkan di depan Mereka..

Kami semua jamaah masih menunggu dan menunggu waktu berbuka puasa tiba. Tiba-tiba ada yang memulai untuk berbuka puasa dan yang lain pun mengikutinya. Akhirnya banyak yang mengucap "Alhamdulillah" Dan saya pun ingin ikutan mereka juga untuk berbuka puasa tapi saya tidak mendengar suara Azan dikumandangkan.

Akhirnya penulis bertanya kepada oranng Indonesia yang duduk di hadapan penulis dan bertanya kepadaya

"Pak, sudah buka yach? tanya saya penasaran tapi saya belum berani mengambil makanan.

"Ya, Kali Pak", jawab dia sambil menikmati hidangan dihadapannya.

"Kok, saya tidak mendengar suara Azan Maghrib", tanya saya lagi.

"Maaf Pak, saya tidak puasa jadi saya makan. Saya makan pun karena banyak yang duduk disini dan saya ikut. Mereka makan yach saya makan", jawab dia lagi sambil melanjutkkan makannya.

"Yang makan pun banyak tak puasa Pak", jawab dia lagi.

Berbuka puasa bareng di Masjid Nabawi
Memang kulihat banyak sekali orang yang makan hidangan di hadapan mereka sebelum Azan di kumandangkan. Tapi saya ragu dan saya tidak mau berbuka sebelum terdengar suara azan. Kebetulan penulis duduk disebelah petugas yang membagi makanan tadi dan bertanya dengan memakai bahasa Isyarat (Bahasa Tarzan) dengan memperagakan dan intinya dari percakapan dengan bahasa Isyarat adalah :

"Sudah Azan Maghrib, Mas?" tanya saya ke petugas di dekat saya dengan memperagakan tangan

"Belum ", jawab dia sambil menggelengkan kepala

"Kenapa mereka sudah berbuka puasa, Mas", tanya saya sambil memperagakan makan.

Terus dia jawab dalam bahasa English yang bikin penulis malu. dan penulis memahaminya dimana kebanyakan yang duduk di depan meja hidangan itu kebanyakan mereka yang tidak berpuasa.

Tak lama kemudian, berkumandanglah Azan Maghrib dan kami pun segera berbuka dengan meminum Air Zam Zam terlebih dahulu dan makan kurma, roti. Saat ketika meminum Air teh Arab. bisa dirasakan betapa pahitnya teh tersebut.

Dan ketika saya di Makkah, Kami menginap di Zam-Zam Tower, dan waktu itu, saya pun berencana untuk berpuasa sunnah di hari Senin nya dan ketika kami sudah pindah dari Madinah ke Makkah di hari sabtu pagi nya.
Ketika penulis merencanakan puasa di hari Senin dan tidak ingin kejadian saat Sahur tidak ada makanannya dan minumannya. Selepas Isya penulis berbelanja di Bin Dawood dan kemudian masuk ke kamar dan tidur.

Ketika terbangun waktu menunjukkan pukul 2.30 pagi dan penulis pun iseng-iseng mengecek tempat makan atau food court yang ada di lantai 2-3 Zam Zam Tower. Saat penulis turun dari lantai 6 menuju ke lantai 2-3 , terlihat masih ada orang yang berlalu lalang. Dan setibanya penulis ke lantai yang banyak tempat jualan makanannya. Terlihat masih ada yang buka dan akhirnya pandangan penulis tertuju kepada restoran cepat saji KFC. Dan penulis pun memesan Kombo 2 dimana ada dua ayam, nasi dan minuman. Pada awalnya penulis mau memesan Pepsi Cola tapi karena khawatir perut penulis bakal bermasalah kembali akhirnya penulis memesan teh es.

KFC di Zam Zam Tower (from google.com)
Dan saat penulis duduk dan ingin melaksanakan Sahur yang nikmat, seketika itu juga Restoran tersebut tutup. Dalam hati penulis pun berucap "Alhamdulillah, sungguh beruntung bisa sahur makan ayam KFC" Dan akhirnya penulis pun makan dengan nikmatnya. tentunya sahur yang nikmat. Dan setelah sahur penulis pun kembali ke kamar hotel untuk berwudhu dan melanjutkan ke Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat tahajjud dan subuh.

Dan sore harinya , penulis datang ke masjidil haram sekitar pukul lima sore dan bermaksud untuk berbuka puasa di dalam masjidil haram dengan harapan akan ada tersedia hidangan seperti yang penulis dapat saat berbuka puasa di dalam masjid Nabawi. Tapi sampai berkumandangnya azan Maghrib tidak ada satupun makanan yang tersedia di lokasi penulis duduk, walaupun sudah mencari. Dan akhirnya penulis pun minum air zam-zam untuk berbuka puasa dan setelah sholat Isya baru makan malam di Food Court di areal Zam-Zam Tower.

Tapi untuk puasa setelahnya yang di hari senin dan kamis, penulis tidak melaksanakan puasa senin kamis lagi karena penulis pun hanya ingin mencoba mencari pahala Allah di tanah suci umat Muslim dan siapa tahu pahalanya lebih besar dan tentunya ingin merasakan nikmatnya puasa saat melaksanakan ibadah Haji. Teman-teman pembaca pun bilamana nanti berkesempatan untuk datang ke tanah suci baik Makkah dan Madinah, usahakanlah puasa sunnah senin kamis dan perbanyak sunnah di tanah suci Makkah dan Madinah agar mendapatkan imbalan pahala yang lebih banyak dari Allah.

Hikmah lain yang mungkin yang dapat penulis cernah dari cerita di atas adalah Allah itu Adil , dan Allah itu mencoba mengajarkan keadilan kepada penulis. Buktinya saat penulis sahur di Madinah hanya meminum air zam zam dan sahur dapat takzil (hidangan makanan kecil) dan ketika di Makkah, penulis saat sahu bisa makan enak yaitu Ayam Goreng KFC yang besar-besar. namun pada saat berbuka puasa penulis hanya meminum Air Zam-Zam. Tapi selain cerita ini mengenai Allah itu mengajarkan kita supaya berlaku adil, masih ada lagi cerita lainnya yaitu mengenai Pakaian Umroh.

Tapi mungkin ada yang berbeda pandangan dengan kisah diatas , itu syah-syah saja.

Salam Pekanbaru


22 April 2017






Kamis, 20 April 2017

APA MUNGKIN MANUSIA BISA MENCIUM BAU MALAIKAT?

Assalammualaikum Wr. Wb,
Di depan pintu gerbang ini penulis mencium bau wangi seperti bau Malaikat

Penulis ingin menceritakan kembali pengalaman sewaktu menunaikan Ibadah Haji tahun 2014 yang lalu dan sekali lagi penulis menekankan bahwa penulis ingin berbagi kebaikan dan bukan untuk Riya. Mohon maaf bilamana nantinya dari cerita saya ini menimbulkan salah presepsi mengenai cerita saya ini. Tapi intinya kita tidak tahu apa yang terjadi karena itu semua adalah rahasia Allah SWT.


Pagi hari itu setelah beberapa hari di Madinah, saya bangun sekitar pukul dua malam dan itu biasa saya lakukan selama saya berada di Madinah. Karena rugi rasanya untuk tidur berlama-lama selama berada di Madinah. Setelah terbangun, saya langsung bangun dan mengambul wudhu. Kulihat tman-teman saya sekamar masih tidur dan pelan-pelan saya melangkah ke kamar mandi untuk mengambil Wudhu dan kemudian langsung menuju ke Masjid Nabawi.

Kami waktu itu menginap di Al Aqeeq palace arac hotel dan setiap kamar berisi 3 orang. Jarak antara hotel tempat kami menginap dengan Masjid Nabawi sekitar 100 - 200 meter. Kebiasaan jelek saya adalah saya jarang melakukan sholat Isya berjamaah di Masjid Nabawi kalau lagi datang rasa malasnya dan alasan lain mungkin saya bisa bangun pagi-pagi untuk sekalian melaksanakan sholat Tahajjud juga sambil bermain-main di dalam Taman Surga Raudoh bilamana ada kesempatan untuk masuk ke dalam nya. 

Singkat cerita sebelum menjelang subuh, saya melaksanakan sholat Witir dan saat azan subuh dikumandangkan dan setelah itu kami melaksanakan sholat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Karena shaff di depan banyak yang kosong, maka saya maju ke shaff di depannya dan maju ke depan lagi dan begitupun dengan yang lainnya. 

Pada saat kami bersiap , tiba-tiba ada sesosok tubuh maju dan berdiri dekat saya. Sosok yang tinggi besar dan mungkin tinggi sekitar 2 meter dimana saya tingginya 1,76 meter. Saya tidak bisa melihat rupanya karena wajahnya tertutup dengan penutup kepala yang panjang (saya tak tahu apa namanya). Saat sosok itu berdiri di sebelahku, ada bau wangi yang saya cium dan membuat badan saya terasa segar dan segar (mungkin karena ada AC di dalam Masjid Nabawi). 

Kejadian Pertama.
Selama sholat subuh berlangsung, saya selalu meneteskan air mata saat Imam Masjid membacakan surah demi surah dan saya tidak tahu kenapa saya bisa menangis seperti itu dan lama. Apakah bau wangi itu apakah alasan lainnya. Sempat terbersit di pikiran saya dimana saya bisa cari bau parfum wangi seperti itu. Saat itu saya mengindahkan apa yang terjadi dan tidak pernah berpikir bahwa itu kemungkinan bau Malaikat.. Jadi setelah sholat saya langsung cari posisi untuk duduk dan tidur sejenak dan ngobrol dengan teman saya, dan hanya kami berdua. Dan itu pun ketemunya sewaktu menunaikan Sholat Subuh dan tidak sebelumnya. 


Kejadian Kedua,
Setelah kami duduk-duduk di masjid dan melaksanakan sholat Dhuha, kami pun beranjak pulang ke hotel, dan mungkin jam waktu itu menunjukkan pukul 6.30 pagi atau pukul 7 pagi. Suasana pada waktu itu sepi banget dan tidak seperti biasanya. Biasanya ada pasar kaget di depan gerbang jalan, tapi waktu itu tidak ada dan biasanya ada ramai orang berlalu lalang , pada waktu itu tidak ada orang dan sepi. Mungkin juga karena sudah agak siang jadi semua orang kembali ke hotel untuk beristirahat. 
Pasar Kaget di Dekat Gerbang Masjid Nabawi
Pada waktu itu kami berdua dengan teman saya, sebut saja namanya Sueb, berjalan berdua dengan saya dan mengobrol apa saja dan saya lupa apa yang kami obrolkan pada waktu itu. Selama
kami berjalan, terlihat seorang tukang sapu (petugas kebersihan Masjid) sedang menyapu di depan gerbang yang biasa kami lewati. Dan dalam benak saya pada waktu itu "Orang itu sedang mencari sedekah dan kenapa sudah siang begini masih saja menyapu padahal tempatnya sudah bersih" jadi saya menganggap tukang sapu itu hanya pura-pura. Dan sosoknya kecil mungkin tinggi sekitar 160 cm dan berbadan kecil dan rada hitam seperti orang-orang Bangladesh atau Pakistan. Jadi saya cuek saja dan tetap ngobrol dengan Pak Sueb.

"Bentar yach Pak Iwan, saya mau sedekah dahulu", kata Pak Sueb dan melangkah menuju ke tempat petugas kebersihan itu berdiri. Walaupun kami melangkah melewati petugas itu sekitar sudah dengan jarak 7 meter an. Jadi Pak Sueb itu melangkah balik menghampiri nya dan memberikan sedekahnya.


Saat Pak Sueb berjalan menuju ke petugas kebersihan itu, saya pun menunggu dimana posisi sekitar 7-8 meter jauhnya dari petugas kebersihan. Karena saya mungkin saat itu merasa malu dan segan karena saya sendiri tidak sedekah ke petugas itu.

Sewaktu Pak Sueb memberikan sedekah maka seketika itu juga tercium bau harum dan wangi seperti yang saya cium sewaktu melaksanakan sholat subuh pagi itu. Dan sambil Pak Sueb datang menghampiriku , bau tersebut tidak hilang dan mungkin hilang sewaktu kami tiba di hotel. 

Herannya saya pada waktu itu tidak ada seorang pun di dekat kami dan Bau badan Pak Sueb waktu itu tidak sewangi sewaktu sebelum jumpa dengan cleaner tersebut dan juga sewaktu kami melewati petugas kebersihkan tersebut saya pun tidak mencium bau wangi seperti itu dan baru setelah ada kebaikan baru tercium bau wangi tersebut tapi entahlah. Pada waktu itu saya masih belum beranggapan bahwa itu adalah bau Malaikat Subuh yang hadr mencatat kebaikan manusia.

Saya waktu itu tidak menceritakan kejadian Aneh itu ke Pak Sueb, tapi selang beberapa hari saya baru cerita ke Dia. Dan dia hanya ketawa aja.


Kejadian Ketiga,
Siang itu saya melaksanakan sholat Ashar berjamaah di Masjid Nabawi dan setelah melaksanakan sholat Ashar tersebut, kami pun bubaran. Dan sewaktu bubaran, saya pun mencari air Zam-Zam untuk mengisi botol minuman saya yang banyak tersedia di dalam Masjid Nabawi. Dan pada waktu itu saya bersama teman saya sebut saja namanya Pak Amir, dan sewaktu kami berjalan mau keluar masjid. Beliau minta berhenti dan dia bilang mau minum. Akhirnya saya pun berdiri sekitar 5 meter dari dia dan melihat kegiatan manusia di sekitar lokasi tempat air minum dimana ada yang menuangkan air minum dan memberikan ke beberapa jamaah dan seterusnya. Intinya banyak kebaikan di sekitar tempat air minum.


Tempat Penampungan Air Zam Zam di dalam Masjid Nabawi
Tiba-tiba tercium bau wangi itu lagi dan baunya pun sama seperti sewaktu di dalam masjid Nabawi dan sewaktu teman saya bersedekah. Wanginya sama persis dan membuat hati saya terhanyut. Dan saya hanya bisa diam dan akhirnya saya menganalisa bahwa bau wangi tersebut akan muncul dikala manuasia berbuat kebaikan kepada orang lain atau berbuat kebaikan kepada sesama manusia. 

Saya tidak tahu apakah itu bau wangi dari Malaikat karena saya sendiri belum jumpa dengan malaikat apalagi mencium baunya. Itu semua hanya Allah yang tahu. Karena saya cerita pun tidak akan ada yang percaya. Tapi udahlah saya cerita untuk berbagi kebaikan. Tapi selama saya di Masjid Nabawi mungkin ketiga kejadian itu saya yang saya alami dan saya tidak tahu hari apakah itu , Apakah hari jumat atau hari lainnya. 

Sejak saat itu saya pun rajin sedekah kepada petugas kebersihan Masjid Nabawi dan Masjidil Haraam tapi tidak ke pengemis yang ada disekitar Tanah Suci karena takut dengan kejadian yang dialami teman saya sebelumnya. 

Tapi sewaktu saya pindah ke Makkah dan akhirnya saya selesai haji dan kembali ke Indonesia/Australia, bau tersebut tidak tercium kembali.

Pecaya tidak percaya yach itu pendapat teman-teman sendiri dan mungkin saja kejadian tersebut bisa dialami teman-teman pembaca  blog ini dan Who know.

Salam

Pekanbaru, 21 April 2017







KETIKA SEGELAS AIR MINUM INGIN MERUNTUHKAN KEIMANANMU

Cerita ini adalah cerita pengalaman sewaktu menunaikan Ibadah Haji tahun 2014, Dimana di minggu ketiga kami di tempatkan di suatu Motel di Wilayah Aziziah. Dimana Motel tersebut menurut teman-teman kurang bersih dan berdebu. Karena wajar dimana motel tersebut hanya dipakai sewaktu Haji saja. Jadi Banyak teman-teman haji merasa tempat itu kotor dan mereka pun membersihkan tempat tidurnya, kamarnya dan Toilet nya. Tapi Penulis, Alhamdulillah mendapatkan kamar yang lumayan bersih dibandingkan yang lain dan lokasinya di pojok. Tapi itu menurut penulis, kalau tempat tidur bersih, tak berdebu, kamar pun bersih,toilet pun bersih. Mungkin karena penulis orangnya malas makanya Penulis malas membersihkan dan dianggap semua bersih..Mencoba ikhlas menerima sesuatu yang dihadapi sewaktu haji makanya penulis terima semua keadaan tersebut. Tapi memang untuk ukuran cleaner seperti penulis ini, kamar yang ditempati penulis memang bersih.

Disini penulis mau cerita mengenai suatu kejadian yang dialami berkenaan dengan dipegangnya Al Qur'an di tangan kiri oleh salah satu jemaah haji dan teman kami juga.

Saat ini disiang hari yang cukup panas, sekitar pukul 3 sore. Ketiga dahaga memuncak. Saya keluar dari kamar kami yang berada di lantai tiga gedung tersebut dan bermaksud mengambil air minum umum untuk menyeduh teh dan Mie Instant yang ditempatkan di lantai dua, dekat dengan kamar para Ustaz pembimbing/ Muthawib.

Ketika saya melangkahkan kaki saya turun ke lantai dua untuk mengambil air minum. Saya lihat teman jemaah kami yang sedang memegang gelas berisi Air Minum di tangan kanan dan memegang Al Qur'an di tanggal kirinya. Saya terkejut melihatnya dimana menurut pandangan saya, kita tidak boleh memegang MAshab Al Qur'an di tangan kiri dan apalagi kita tinggal di suci Haraam / tempat suci. Saya tahu jemaah tersebut adalah Muallaf dan saya tahu dia baru belajar membaca Al Qur'an.
Kemungkinan dia tidak tahu bahwa ada hukumnya memegang Al Qur'an. Mungkin dia masih anggap itu sebuah buku biasa. Akhirnya saya sapa dia .

Hai  Mate," (karena dia orang Australia jadi saya pakai bahasa English)," Sapa saya





"Kenapa Bapak pegang Al Qur'an di tangan kiri dan tangan kananku memegang gelas air minum", tanya saya seterusnya.

"Kalau Al Quran di sebelah kanan, bagaimana saya minum air '" jawab dia.

"Tapi Pak, kita tidak boleh memegang Al Qur;an di tangan kiri apalagi di tanah Haraam ini," kata saya lagi.

"Apa sich bedanya tangan kiri dengan tangan kanan, karena saya pengen minum, dan saya pegang Al Qur'an, makanya sementara saya pegang dengan tangan kiri dan setelah selesai minum saya pegang Al Qur'an di tangan kanan saya lagi." jawab dia panjang lebar.

"Coba lihat nich, bagaimana saya minum," katanya sambil memperagakan posisi tangannya

Sebenarnya saya ingin menanggapi komentar dia lagi tapi ingat kalau tempat kami masih di tanah Haraam dan takut membuat orang lain tersinggung apalagi berkata-kata kasam. Dan saya pun tidak mau kena Dam. Akhirnya saya menggangguk menyatakan Oke walau dalam hati tidak bisa menerima.

Rupanya sewaktu kami bercakap-cakap mengenai Al Qur'an dan Segelas Air Minum dilihat oleh Pembimbing Haji kami (Muthawib) dan dia pun hanya diam dan tersebut. Terkesan tidak mau mencampuri pembicaraan kami



Karena ada yang memperhatikan kami akhirnya pun saya berkata

"Tapi kita tidak boleh memegang Al Qur'an di tangan kiri",

 Karena mungkin dia tidak mau berdebat, akhirnya dia meninggalkan saya dan Ustaz Pembimbing kami untuk masuk ke kamarnya dengan membuang air minumnya dan segera memegang Al Qur'an di tangan kanan. Dan mungkin dengan kondisi jiwa yang kesel dengan teguran penulis.

Sore pun berlalu dan malam pun tiba, Kami pun mengadakan aktivitas-aktivitas keagamaan seperti Manasik Haji dan ceramah. Dan ketika semuanya berlalu , kami pun kembali ke kamar kami untuk tidur.

Ada kebiasaan jelek penulis yaitu penulis suka bangun pagi-pagi dan melaksanakan sholat Tahajjud. Dan ketika penulis terbangun pukul tiga pagi dan karena haus. Akhirnya penulis keluar dari kamar dan turun ke lantai dua untuk mengambil air dari water dispenser. Secara tak sengaja, penulis nampak seorang jemaah haji Australia yang juga rombongan kami, yang siang tadi berbincang dengan penulis mengenai Al Qur'an di tangan kiri, tengah duduk di depan kamar ustaz pembimbing kami sambil memegang perutnya sambil menahan kesakitannya.




"Ada apa dan kenapa?" tanya saya dengan nada turut prihatin

 "Perutku sakit dan buang air terus" jawab dia sambil menahan sakit.

"Mungkin karena air minum itu karena habis minum air itu, perutku sakit dan aku sering buang air besar", jawab dia lagi.

Rupanya dia kena diare karena dianggapnya dia meminum air dari water dispenser kemaren siang


Tak lama keluarlah si ustaz pembimbing kami yang tadi siang melihat percakapan saya dengan Mate ini dan segera menanggapi keluhan dari Jemaah ini. Akhirnya saya bertanya ke Ustaz.

"Pak Ustaz, kenapa kawan ini" tanya saya

"Dia sakit perut dan sebentar lagi dibawa ke rumah sakit dekat sini " Jawab si Ustaz

Tak lama kemudian Si Ustaz membawa teman yang sakit ini ke rumah sakit yang ada di dekat dimana tempat kami menginap. Dan menurut informasi, teman saya ini mendapatkan infus dan malam harinya sudah kembali ke hotel dan sudah sehat kembali.


Tapi percaya tidak percaya, logika tidak logika, Rupanya dari hasil investigasi, air minum dalam dispenser itu sudah satu tahun nggak pernah diganti. Jadi kemungkinan disitulah teman mendapatkan sakit perutnya itu. Namun anehnya, tidak hanya dia saja yang minum air dari Dispenser tersebut tapi juga penulis dan jemaah lainnya meminum air dari dispenser tersebut.

Penulis pun menghubung-hubungkan sakit perutnya teman saya ini berhubungan dengan dipegangnya air minum tangan kanan dan Al Qur'an di tangan kiri. Dan untungnya dia minum hanya dua teguk saja sebelum saya tegur. Karena selepas saya tegur, langsung dibuangnya air minum tersebut. Bayangkan bilamana dia tidak membuang air minum dalam gelas tersebut bisa saja berakibat fatal bagi dirinya.

 Jadi hati2lah di Tanah Haraam, Mate. Karena kita tidak boleh sembarangan melalukan sesuatu

Salam, 20 April 2017





Rabu, 19 April 2017

JANGAN PAKAI SANDAL SEWAKTU TAWAF

Cerita ini adalah salah satu pengalaman penulis sewaktu melaksanakan tawaf di lantai 2 yang dekat Kabah sewaktu haji tahun 2014.  Penulis mempunyai kebiasaan setiap habis sholat Wajib selalu ingin merasakan Tawaf di tiap-tiap lantai yang ada di dalam Masjidil Haram. Cuma untuk lantai yang paling atas dimana diperuntukkan untuk orang yang memakai kursi roda, Penulis tidak pernah tawaf di lantai tersebut. Yach karena waktu mengililing Kabah lebih teduh di bandingkan di lanta-lantai bawah nya. 

Siang itu saat setelah habis sholat Zhuhur , penulis ingin melakukan Tawaf / keliling Ka'bah di lantai kedua. Di Mana lantai tersebut tidak menggunakan atap. Yang jelas cuaca pada waktu itu sedang terik-teriknya sehingga bisa dibayangkan gimana panasnya kaki kita saat menyentuh lantai keramik.
Cara mensiasati agar kaki tidak terasa panas adalah dengan cara tidak membiarkan kaki kita menyentuh lantai keramik berlama-lama. Istilahnya jangan jalan lambat. Karena dengan jalan lambat, permukaan kaki kita akan lebih lama menyentuh lantai yang panas tersebut. Penulis pun berjalan mengitari Kabah dengan langkah yang cepat karena untuk menghindarkan kaki penulis menyentuh lantai berlama-lama. Karena panasnya lantai keramik tersebut membuat panas kejut di kaki penulis.

Tengah asyik penulis berjalan mengelilingi Ka'bah, Pada putaran kedua atau ketiga (penulis lupa), Penulis melihat ada seorang pemuda yang berjalan melewati penulis dengan menggunakan Sandal dan dengan cueknya dia melangkah. Penulis pun terkejut dan heran melihat tingkahnya dia. Padahal Sandal khan kotor apalagi dipakai di  Masjidil Haram. Nggak tahu azab Allah, dia.

Akhirnya saat dia mau mencoba melewati penulis, tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh terduduk. Dan segera penulis mencoba membantunya. Dan ada rasa ketakutan saat dia terjatuh itu karena dia buru-buru. Atau mungkin dia malu karena banyak orang di sekitar dia. Akhirnya dia bangkit dari posisi jatuhnya dan segera dia melepas sandalnya dan sambil berlari kecil, dia meninggalkan penulis dan orang-orang disekitar dia pada saat itu dengan rasa malu. 

Hikmah dari cerita/ kejadian di atas adalah janganlah kita memakai sesuatu baik itu merupa sandal dan lainnya yang kotor atau kemungkinan mengandung Najiz ke dalam Masjidil Haram. Dimana kita tahu letak kesucian dan itu rumah Allah. No sandal when you tawaf. Kalau tak berani / sanggup menahan panas di Masjidil Haram, bagaimana menghadapi Panasnya Api Neraka nanti.

Semoga kita semua masuk surga dan tidak masuk neraka


Pengalaman Haji 2014
Pekanbaru 20 April 2017.

Senin, 17 April 2017

ALARM SECURITY BIN DAWOOD


Hari pertama saya berada di Madinah, saya cukup terkejut dan takjub karena di Madinah yang dekat Daewoo. Terlintas dalam pikiranku bahwa ada toko electronic product Daewo Korea yang menjual barang-barang mereka di kota Madinah. Terpikir dalam benakku, “kenapa Daewo mau berjualan alat-alat elektronik yang lokasinya dekat dengan Masjid Nabawi” 

Karena sering melihat tulisan Daewo maka akhirnya pada keesokan harinya, saya masuk ke dalam komplek pertokohan tersebut untuk melihat-lihat alat-alat elektronik yang dijual di sana. Saya masuk ke dalam, naik escalator dan turun tangga sambil muter-muter mencari lokasi toko alat electronic Daewo. Namun akhirnya tidak ketemu. Yang saya lihat adalah supermarket yang berada di lantai bawah dan akhirnya saya masuk sambil mencari makanan dan minuman untuk cemilan untuk di makan di kamar dimana saya termasuk orang yang suka ngemil. 

Terlihat banyak orang yang berbelanja di supermarket itu dan terlihat banyak penjaganya orang-orang Indonesia yang hijrah dan mencari nafkah disana disamping orang-orang dari Bangladesh dan Pakistan. Sempat sejenak berbicara dalam bahasa Indonesia untuk menanyakan makanan-makanan yang dijual disana. 

Setelah selesai membayar di kasir dan mau keluar dari supermarket tersebut , ternyata alarm berbunyi dan saya pun bingung jadinya. Akhirnya security menyuruh 2 atau 3 kali untuk bolak balik melewati sensor yang ada di pintu keluar dan sempat diperiksa seluruh belanjaan saya dan saya di geledah. Dalam hati saya juga ngapain saya mencuri barang disini karena saya berencana berhaji. Akhirnya sekitar setengah jam dan ada yang menjamin yaitu salah satu supervisor yang ada di sana. Akhirnya saya dibolehkan pulang padahal malu juga dilihat oleh orang-orang yang berada di sana. 

Keesokan harinya pun saya datang lagi ke sana untuk berbelanja dan berbunyi lagi alarm tersebut, saya diperiksa lagi dan dicheck belanjaan saya dan akhirnya bebas juga karena security disana sudah paham dengan saya, karena dia hanya senyum-senyum saja.

Saya pun heran kenapa ada bunyi tersebut, jadi mulailah saya berpikir untuk mencari tahu kenapa bisa ada bunyi alarm, padahal saya tidak mengambil barang yang bukan hak saya. Dan saya berpikir dengan apa yang saya pakai waktu itu, dimana di hari pertama ke sana saya pakai apa dan hari kedua saya pakai apa. Setelah dianalisa akhirnya saya mengganti celana panjang warna hitam yang saya pakai di hari pertama dan hari kedua. Akhirnya di hari ke tiga, saya masuk kembali ke supermarket itu dan tidak berbunyi sewaktu saya sudah selesai berbelanja. 

Sampai kami meninggalkan kota Madinah, saya belum juga bisa menemukan penyebab Alarm berbunyi di Kedai Bin Dawood.

 
Hampir dua minggu kemudian setelah kami berada di Mekkah dan sewaktu saya berbelanja di Toko Bin Dawood, saat saya mau masuk ke toko tersebut. Alarm berbunyi kembali dan bikin saya bingung lagi karena saya tidak memakai celana warna hitam. Tapi yang di Makkah ini berbeda, karena punya alat untuk melacak dimana benda yang mengakibatkan bunyi alarm tadi. Dan akhirnya ditemukan, rupanya saya lupa membuang tag alarm yang ada di pakaian yang saya beli dari Toko Khatmandu. Saya termasuk salah satu yang suka product-product Khatmandu. Saya suka membeli product khatmandu bilamana ada discount. Tapi setelah saya beli product Khatmandu dan tidak pernah melepas tag alarmnya, selama di Canberra, saya belum mengalami bunyi alarm walaupun saya sering masuk Mall dan Supermarket.  

WUKUF DI ARAFAH SEPERTI DI TAMAN SURGA

Saya mencoba ngeshare lagi pengalaman sewaktu menunaikan ibadah haji tahun 2014 yang lalu dan kali ini cerita mengenai pengalaman sewaktu wu...