Blog ini berisi pengalaman ketika saya naik Haji di tahun 2014. Cerita mengenai Haji dan Umrah tidak akan pernah habis dan pastinya selalu dikenang sepanjang masa. Disini ada juga akan diceritakan mengenai cerita-cerita pendek yang terjadi kala melaksakan haji. Saya tidak bermaksud untuk Riya tapi saya mencoba membagi kebaikan kepada saudara semua calon tamu Allah di Baitullah. Cerita ini pun ada dalam Blog Pujangga Piping. karena blog ini penulisnya sama denga penulis di pujangga piping
Senin, 17 April 2017
CELANA JEANS DAN HAJI
Saat melaksanakan ibadah haji tahun 2014 yang lalu, saya membawa celana jeans tiga helai. Karena saya memang tidak mempunyai celana bahan. Jadi hari-hari saya saat menjalankan kegiatan di Madinah dan Makkah selalu memakai celana jeans.
Memang aneh kedengarannya karena kebanyakan orang-orang yang menunaikan ibadah haji selalu menggunakan celana bahan warna putih dan selalu memakai baju gamis. Kalau saya memakai peci hitam, baju batik ,pakai rompi dan celana jeans.
Memang aneh kedengarannya karena kebanyakan orang-orang yang menunaikan ibadah haji selalu menggunakan celana bahan warna putih dan selalu memakai baju gamis. Kalau saya memakai peci hitam, baju batik ,pakai rompi dan celana jeans.
SALAH MEMBERI SEDEKAH 1 RIAL MENJADI 100 RIAL.
SALAH MEMBERI
SEDEKAH 1 RIAL MENJADI 100 RIAL.
Kisah
ini adalah kisah dari teman satu rombongan yang mengalami hal tersebut dan
beliau ketakutan akhirnya. Di Kota Madinah itu banyak pengemis yang berkeliaran
untuk mencari uang dari pemberian dari jemaah haji di sana. Banyaknya pengemis
yang berkeliaran di sana juga sungguh kadang membahayakan bagi jemaah haji
karena sifatnya bergerombol dan mereka memakai cadar warna hitam dan pakaian
hitam. Jadi kadang kita pun tidak tahu apakah mereka itu perempuan beneran atau
laki-laki yang menyamar. Jeleknya pengemis di sana itu bilamana sudah kita
kasih uang ke dia, dia akan memberitahu ke kawan-kawannya. Kami pun sudah
diwanti-wanti oleh pimpinan rombongan kami agar tidak memberikan uang kepada
pengemis.
Tapi
kawan kami, sebut saja namanya supriadi ini, mungkin karena kasihan dan mungkin
karena kurang bersedekah di Australia, akhirnya supriadi ini memberikan uang ke
pengemis ini. Maksud hati ini memberikan satu rial ke pengemis ini, tapi yang
muncul seratus rial. Pengemis itu melihat supri mengeluarkan uang dari kantong
dan segera saja diserobot uang seratus rial dan melarikan diri seperti copet.
Dan supriadi berusaha mengejar namun tidak bisa karena semua pakaiannya sama
hitam-hitam dan cadar hitam .
Tak mungkinlah dia buka cadar tiap-tiap pengemis
disana untuk memeriksa siapa yang mengambil uangnya tersebut. Tapi yang
menyedihkan dan membuat teman saya ini ketakutan dan bergegas untuk kembali ke
hotel dikarenakan, dia dikejar dan didatangi oleh kawan-kawan pengemis tadi.
Mungkin dianggap tajir dan punya uang banyak.
KARPET RAUDOH ITU BERWARNA HIJAU BUKAN MERAH.
Raudhah, ialah satu tempat yang sangat mulia
di dalam Masjid Nabawi. Selain menjadi lokasi Rasulullah SAW dan para
sahabatnya beribadah dan tempat turunnya wahyu kepada baginda, ia juga
merupakan taman syurga berdasarkan hadis Nabi.
“Ruang antara rumahku dan mimbarku adalah
satu taman daripada taman-taman syurga. Dan mimbarku terletak di atas kolamku”
Kedudukan
Raudhah adalah di antara rumah Rasulullah SAW dan Sayyidatina Aisyah RA dengan
mimbarnya. Panjangnya ialah 26 meter jika diukur dari timur bermula dari rumah
tersebut hingga ke mimbar di sebelah baratnya. Tetapi sekarang hanya tinggal 22
meter kerana telah disekat dengan pagar makam. Lebarnya pula 15 meter bermula
dari Mihrab Rasulullah SAW di sebelah selatan hingga ke akhir rumah tersebut di
sebelah utara mengikut pendapat yang masyhur di kalangan ulama’. Sebagai tanda,
tempat ini dihampari dengan karpet berwarna putih hijau.
Hari
pertama di Madinah, tidak ada kegiatan berarti. Jadi kami hanya ke Masjid
Nabawi, sholat , makan dan hotel. Tapi sebagian dari jemaah haji kloter kami
tidak tinggal diam dan kebanyakan mereka jalan-jalan ke dalam masjid Nabawi,
berbelanja di kedai-kedai yang berada di dekat hotel dimana kami menginap.
Tibalah
malam hari, dimana biasanya berjalan ke Masjid beserta rombongan dengan Pak
Anto dan Pak Ahmad, tapi kali ini tidak karena saya malam itu terbangun sekitar
pukul 2 malam. Kulihat rekan satu kamar masih pada tidur dan tidak enak pula
rasanya untuk membangunkan mereka. Akhirnya saya keluar hotel dan menuju ke
Masjid Nabawi.
Saya
mempunyai kebiasaan bangun jam 3 pagi atau tidur tidak cukup dimana keseharian
saya di Canberra bekerja mulai jam 4 pagi. Jadi mau tak mau saya tidur sekitar
4-5 jam sehari di hari kerja tapi kalau weeked bangunnya rada siang. Kebiasaan
tersebut terbawa juga di Makkah dan Madinah.
Tapi saya bersyukur kepada Allah karena saya bisa tidur sedikit dan
diberi keluasaan dalam menjalankan ibadah Haji.
Tapi
disamping karena kebiasaan bangun lebih awal, saya juga mendapat masukan dari
Ustaz Nur Ihsan Jundullah sewaktu masih belum berangkat Haji.
“Kalau
di Makkah dan Di Madinah itu malam jadi siang dan siang jadi malam. Karena
kebanyakan orang beribadah di malam hari dan tidur di siang hari. Jadi
kebanyakan Jemaah Haji pada malam hari ke Masjid Nabawi untuk Ibadah kepada
Allah dan Siang hari tidur di hotel. “
“Lagipun
saying bilamana sudah berada di Makkah dan di Madinah kerjanya hanya tidur dan
di hotel. Lebih baik habiskan waktu di masjid pada malam hari.”
Kata-kata
ustaz Nur Ihsan tersebut seakan-akan membuat saya berkeingin melakukan hal
seperti yang disampaikan ustaz ihsan, yaitu malam di masjid dan siang di Hotel.
Sepanjang
perjalanan dari Hotel menuju ke Masjid Nabawi, memang terlihat banyak toko-toko
sudah pada tutup tapi tetap saja ramai orang berlalu lalang. Jarak Hotel yang
kami tempati tidaklah begitu jauh dari Masjid. Mungkin sekitar 100-200 meter
saja. Setelah tiba di dalam masjid Nabawi, saya langsung melaksanakan sholat
Isha dan dilanjutkan dengan sholat tahajjud. Memang kadang kebasaan jelek saya
adalah saya selalu menunda-nunda sholat isha agar saya bisa bangun di malam
hari dan sekaligus bisa mengerjakan sholat tahajjud.
Setelah
melaksanakan sholat tahajjud, selanjutnya saya lupa apakah saya membaca Al
Qur’an atau langsung mengitari masjid Nabawi. Banayk terlihat orang yang tidur
di Masjid Nabawi dan Nampak masjid nabawi ditutup sebagian dimana agar
memudahkan para cleaning service untuk membersihkan karpet yang ada di dalam
masjid. Sejauh berjalan akhirnya saya menuju ke Raudhoh, terlihat banyak
orang-orang berkerumun di sisi sebelah kiri mimbar dan terlihat antrian begitu
banyak. Saya mencoba masuk ke dalam raudhoh lewat depan tapi disuruh oleh askar
agar ke samping. Akhirnya saya ikutan antri dan dengan semboyan “nothing to
loose” kalau bisa masuk yach syukur dan kalau tak bisa masuk yach tak apa-apa,
karena besok pun bakal bareng rombongan masuk ke Raudhah lagipun saya tidak
begitu paham apa yang harus saya baca selama berada di dalam raudhoh, yang saya
tahu hanyalah sholat sunnah dan berdo’a. saya bermaksud untuk mendoakan
teman-teman yang masih belum bisa berangkat ke Madinah agar bisa dipermudah
urusannya.
Ada
sekitar 6 orang yang masalah dengan pasportnya dimana system di kedutaan Arab
Saudi di Canberra tidak bisa membaca barcode yang ada di passport mereka.
Sehingga akhirnya mereka tertahan. Saya lupa nama-nama mereka dan sempat saya
sms Istri saya atau siapa untuk menanyakan nama ke enam orang tersebut.
Akhirnya setelah antri menunggu sekitar setengah jam, akhirnya tirai dibuka dan
orang-orang pada berlarian sehingga bikin saya heran dan berpikir”apa yang
mereka kejar?”
Mungkin
posisi , mereka mengejar posisi yang pas untuk bisa sholat di dalam raudhoh.
Dan saya hanya berjalan santai dan saya lihat ada posisi kosong di karpet warna
merah dekat tirai, akhirnya saya sholat di sana, saya sholat sunnat beberapa
rakaat dan berdoa untuk keluarga dan orang tua yang meninggal. Tak terasa air
mata menetes tiada henti. Akhirnya saya menangis. Bisa dikatakan berada di
Raudhoh atau berada di Masjid Nabawi bikin menangis dengan mudah.
Saya
pun membaca doa untuk enam orang yang belum bisa berangkat agar dimudahkan urusannya
dan agar bisa berada di tanah suci madinah seperti saya. Tak terasa air mata
menetes untuk kesekian kalinya.
Setelah
selesai berdo’a saya keluar dari raudhoh padahal saya lihat masih banyak orang
yang sholat sunah disana dan tidak mau meninggalkan Raudhoh sebelum masa waktu
berakhir dan nampaknya setiap berada di raudhoh itu sekita 20 menit. Setelah
lewat 20 menit barulah kita diusir untuk keluar karena masih banyak orang yang
ingin berada di raudhoh. Setelah keluar Raudhoh saya masuk ke dalam masjid
nabawi sambil melaksanakan sholat sunnah dan sholat penutup yaitu sholat witir
dan setelah subuh saya kembali ke hotel untuk tidur kembali.
Sekitar
pukul 8 pagi saya bertemu dengan ustaz Ferry di sela-sela sarapan pagi dan
bertanya mengenai keberadaan enam orang yang tertahan tersebut dan Beliau jawab
“Belum ada khabar. Tapi saya dan Pak Berry ke Raudhoh untuk mendoakan agar
dimudahkan urusan ke enam orang ini”
“Saya
pun semalam ke raudhoh juga, Pak” cakap saya.
“Di
raudhoh, duduk di karpet mana? Hijau atau Merah? Tanya beliau
Saya
jawab,”Karpet merah, emang kenapa?”
“Kalau
Raudho itu karpet warna Hijau da itulah Taman Surga,”kata ustaz Ferry.
Akhirnya
saya terbengong-bengong mendengar perkataan ustaz tersebut karena saya
beranggapan bahwa yang di dalam pagar itu adalah raudhoh tanpa melihat warna
karpetnya, Hijau atau Merah. Ada rasa menyesal kala itu kenapa saya duduk di
karpet merah dan bukan warna hijau. Jadi apa yang saya kerjakan kala itu adalah
sia-sia belaka dan mungkin do’a saya tidak sampai ke Allah dan berniat untuk
berdo’a kembali di atas karpet hijau bilamana berada di Raudhoh.
“Berarti
saya belum masuk Raudhoh yach Pak?” Tanya saya
“Iya
, Pak..Tapi nanti malam kita bersama rombongan mau masuk raudhoh. Nanti saya
kasih tahu.” Kata ustaz menghibur saya.
Tapi
setelah sore hari, kami mendapat khabar bahwa keenam orang tersebut bisa
berangkat karena pasportnya sudah bisa terbaca oleh system. Mereka bisa
berangkat Hari Rabu dari Sydney menuju ke Madinah setelah transit di Jakarta.
Intinya
hanyalah Allah yang tahu niatan hati kita untuk memohon kepada agar diberikan
segala kemudahan demi niatan untuk mendatangi rumah Allah saat menunaikan ibadah
Haji.
MENANTI DHUHA DI HIJIR ISMAIL bagian 2
Bertemu Keluarga di Jakarta
Kami berangkat ke Indonesia dahulu sebelum
berangkat ke Madinah dikarenakan dari Raudoh Hajj sendiri yang membuat rencana
seperti itu dengan alasan agar kami, jemaah haji bisa berkumpul dengan keluarga
sebelum berangkat haji. Jadi setelah kami berkumpul dengan keluarga dan di Hari
Sabtu, 13 September 2014, kami berkumpul di Hotel Millenium Tanah Abang Jakarta
sebelum berangkat secara resmi ke Tanah Suci.
Setibanya kami di Bandara Soekarno Hatta,
Kami langsung menuju ke Perumahan Bumi Serpong Damai Tanggerang untuk bermalam
di rumah kakak saya dimana di rumah kakak saya pun sudah ada ibu dan adik-adik
saya untuk bertemu dengan saya sebelum saya berangkat Haji. Bermaaf-maaf an dan
meminta izin ibu saya, agar dipermudah untuk melaksanakan ibadah Haji. Bapak
saya sudah lama meninggal yaitu di bulan Oktober 2003.
Di Hari Jum’at, di rumah kakak saya,
diadakan syukuran Haji yaitu silaturahmi dengan keluarga baik yang ada di
Bogor, di Serang maupun di Palembang, juga mengundang jiran tetangga kakak
saya. Penceramah yang hadir dalam memberikan tausiah kepada kami, sedikit
banyak menebalkan hati saya untuk tidak takut untuk naik haji. Dimana isi
ceramahnya bercerita mengenai seorang ulama besar tapi merasa keimanannya dan
akhlaknya lebih baik dari orang yang dilihatnya,
Suatu hari di tepi sungai
Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang
perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.
Kemudian Hasan berbisik dalam hati,
"Alangkah buruk akhlak orang itu & baiknya kalau dia seperti aku!" Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun utk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam.
"Alangkah buruk akhlak orang itu & baiknya kalau dia seperti aku!" Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun utk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam.
Enam dari
tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.
Kemudian dia
berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata,
"Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang." Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya,
"Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang." Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya,
"Tuan, sebenarnya perempuan yg duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak." Hasan al-Basri terpegun lalu berkata,
"Kalau
begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya
tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dlm
kebanggaan dan kesombongan." Lelaki itu menjawab,
"Mudah-mudahan
Allah mengabulkan permohonan tuan."
Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin & selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yg tdk lebih dari orang lain.
Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin & selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yg tdk lebih dari orang lain.
Jika Allah
membukakan pintu solat tahajud utk kita, janganlah lantas kita memandang rendah
saudara seiman yg sedang tertidur nyenyak.
Jika Allah
membukakan pintu puasa sunat, janganlah lantas kita memandang rendah saudara
seiman yang tidak ikut berpuasa sunat.
Boleh jadi
orang yang gemar tidur & jarang melakukan puasa sunat itu lebih dekat
dengan Allah, daripada diri kita.
Ilmu Allah sangat amatlah luas.
Ilmu Allah sangat amatlah luas.
Jangan pernah ujub & sombong pada amalanmu.
Semoga kita
terhindar dr sikap bangga diri, sombong, ujub dgn amalan kita sendiri.
Sekali-kali jangan pernah berkata "Aku lebih baik dari pada kamu."
Setelah mendengar ceramah itu, saya
berkeyakinan untuk tetap semangat yang intinya saya naik haji ke tanah suci
Makkah adalah untuk memenuhi panggilan Allah. “Labaik Allah Humma Labaik” Saya
merasa bahwa hanya Allah lah yang bisa mengukur ibadah seseorang dan kita
sebagai manusia hanyalah menjalani perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.
Tidak ada manusia yang bisa menilai ibadah seseorang kecuali diri manusia itu
sendiri. Jadi walau saya merasa ibadah saya masih kurang, tapi siapa tahu Allah
memberikan kemudahan bagi saya dan istri saya saat menjalani ibadah haji dengan
kebaikan-kebaikan dan sedekah yang saya lakukan.
Sebenarnya niatan saya naik haji adalah
ingin menemani istri saya naik haji dan menjaga muhrim istri saya, karena
kasihan kalau dia sendirian selama sebulan disana dan Alhamdulillah Allah
mengabulkan do’a saya. Setelah itu niatan lainnya adalah ingin berbuat baik
selama saya menunaikan ibadah haji dan mencari pahala selama di tanah suci.
Tapi yang akhirnya niatan yang paling kuat walaupun tidak kuat amat karena ada
rasa takut yaitu untuk memenuhi panggilan Allah.
Hari Sabtu, 13 September 2014 jam 1 siang,
kami datang ke Hotel Millenium Tanah Abang Jakarta untuk bermalam selama satu
malam sebelum berangkat Haji. Dan saya sekamar dengan istri saya, mungkin
tujuan pihak panitia adalah agar kami bisa menikmati malam pengantin sebelum
kami dihadapkan tugas-tugas berat saat menjalankan ibadah haji.
Di
dalam kamar istriku berkata ,
”
Mas aku ingin focus ibadah kepada Allah selama berada di Tanah Suci dan mohon
mas bisa mengerti.”
Aku
terkejut mendengar kata-kata istriku dan saya hanya bisa menjawab dengan
jawaban ,”Ya”. Walau dalam hati berkata memangnya bisa macem-macem selama
menunaikan ibadah haji?
“Mas pun pengen juga beribadah dengan baik
selama berada menjalankan ibadah haji” Jawab saya. Padahal sebenarnya pengen
juga kumpul bareng istri selama di Arab Saudi (ya sudahlah…red)
Tapi
sebenarnya perkataan istri saya itu adalah di dalam kekhawatiran bahwa dia
tidak bisa menjalankan ibadah haji secara penuh mengingat dia adalah perempuan
dan kadang waktu datang bulan (menstruasi) sudah diprediksi bahwa akan datang
saat kami menjalankan ibadah haji dan selama kami berada di Makkah. Walaupun
istri saya makan obat untuk menjaga agar tidak menstruasi, tetap saja rasa
kekhawatiran itu ada. Saya pun mendoakan agar istri saya bisa tetap bertahan
untuk menstruasi selama menjalankan ibadah haji.
Sabtu Sore itu kami melaksanakan
Manasik Haji yang terakhir di Indonesia. Dalam Manasik Haji diajarkan cara-cara
untuk melaksanakan rukun Haji, wajib haji dan juga aktifitas keseharian selama
di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Sebelum Manasik Haji berakhir, ditutup dengan
do’a oleh ustaz yang memberikan pembekalan kepada kami. Banyak teman-teman
jemaah haji yang menangis mendengar do’a-do’a yang diucapkan tapi anehnya saya
tidak menangis dan hanya bisa melongo dan memperhatikan kenapa orang dengan
mudahnya menangis. Dan dari manasik haji itu akhirnya kami mendapat info bahwa
ada 5-6 orang yang belum selesai visanya dan tidak bisa berangkat bareng kami
besok ke Madinah. Jadi Ustaz Ari yang rencananya berangkat bersama kami besok,
akhirnya tetap tinggal di Jakarta sambil menunggu 5-6 orang yang masih berada
di Australia.
Setelah selesai Manasik Haji, kami pun
makan malam dan setelah itu kami pun beristirahat untuk bersiap-siap
melaksanakan perjalanan jauh ke Madinah.
Hari Minggu, 14 September, sebelum subuh
tiba, kami melaksanakan sholat Tahajjud bersama-sama dan banyak juga jemaah
haji yang hadir di musholla. Di samping memohon agar diberi kelancaran dalam
menjalankan ibadah haji juga agar diberi kemudahan kepada 5-6 orang teman
jemaah haji yang masih belum selesai proses visa hajinya. Dan setelah sarapan
pagi kami bersiap-siap untuk berangkat Bandara Soekarno Hatta dan jadwal
kumpulnya jam 11 siang. Saya sempatkan diri jalan-jalan ke Pasar Tanah Abang
untuk mencari sesuatu dan sekalian mencari makanan Jakarta. Tapi karena masih
pagi, jarang toko yang buka dan juga itu hari minggu jadi daerah sekitar Tanah
Abang masih sepi dari pengunjung.
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke
Hotel karena khawatir akan terlambat dan setidak-tidaknya bisa istirahat
sebentar di kamar hotel sebelum kumpul. Istriku tidak mau diajak ke tanah abang
karena nampaknya dia lebih focus ke ibadah. Karena saat aku tinggalkan di
kamar, dia sedang mengaji. Dan saya tidak mau mengganggu kekhusukan istriku
dalam beribadah.
Pukul 11 siang kami berkumpul di Lobby
Hotel Mellinium untuk absensi sebelum berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Kami
tidak membawa koper-koper kami dimana koper-koper kami sudah berangkat lebih
dahulu ke Bandara agar mudah dalam pengurusannya. Jadi hanyalah tas ransel dan
tas kecil lainnya yang kami bawa di dalam pesawat nantinya. Sebelum berangkat
kami pun berdo’a kembali agar 5-6 orang teman kami yang satu rombongan yang
masih belum beres urusan visa hajinya segera diperlancarkan dan bisa berangkat
haji secepatnya. Dan lagi-lagi saya tidak menangis diantara jemaah lain nya
yang menangis. Mereka begitu khusuknya mendengarkan do’a dari Ustaz Ari
sehingga mereka bisa menangis sedangkan saya lagi-lagi belum bisa khusuk
berdo’a dan bisa menangis. Jadi kadang merasa tidak enak juga jadinya.
Akhirnya kami berangkat dengan
menggunakan dua bus menuju ke Bandara dan rupanya ada satu jemaah haji yang
tertinggal di hotel karena Beliau itu sakit dan berangkat sendirian. Dan kami
tahunya dari petugas hotel yang menghubungi salah satu pihak Raudoh. Tapi
untunglah ada ada jemaah yang mempunyai saudara yang saat itu juga mengiringi
bus kami, jadi keluarga jemaah haji itu kembali ke hotel untuk menjemput jemaah
yang tertinggal tadi sedangkan bus kami menunggu di pinggir jalan. Setelah
proses penjemputan selesai dan jemaah yang tertinggal itu naik bus, kami pun
melaksanakan perjalanan kami ke Bandara sambil membaca “Labaik Allah Humma
Labaik, Labaik Sarikala Labaik, Innal Hamda Wannikmata Walakal Mul Lasari Kala”
Setiba di Bandara, kami berpencar untuk
mencari makan dan juga menukar uang dollar Australia ke uang rupiah, khusus
untuk makan. Setelah sholat Zuhur dijamak dengan sholat Azar, kami pun
berkumpul kembali dan selalu saja saya sempatkan bersedekah baik di musholla
maupun di penjaga toilet, tujuan saya bersedekah adalah berharap amal ibadah
saya itu akan menjaga saya dan istri saya selama saya berada di Tanah Suci.
Setelah proses imigrasi selesai , kami
masuk ke ruang tunggu tapi sebelumnya kami sempatkan diri untuk makan malam di
sekitaran Bandara dan tentunya tidak aneh bilamana harga makanan disana sama
kayak harga makanan di Australia, tapi karena kami perlu makan malam, akhirnya
kami santap juga makanan kami. Tapi istri saya marah dengan saya , akibat dari
menu makanan yang saya makan , dimana saya memesan Tom Yam, nasi dan minuman
kopi Gingseng. Dimana makanan itu tidak seharusnya dimakan saat melaksanakan
perjalanan jauh menggunakan pesawat. Tapi saya cuek saja dan tetap saja makan
makanan yang saya pesan.
Setelah masuk ke ruang tunggu, akhirnya
kami berangkat menuju ke Madinah tapi kami transit dahulu di Abu Dhabi. Tapi
kami tidak memakan pakaian ihram karena pesawat kami tidak melewati Miqat. Kami
menggunakan pesawat Itihat Airlines.
NOVEL"MENANTI DHUHA DI HIJIR ISMAIL
Sebelum saya menulis dan bercerita mengenai kisah perjalanan Haji Saya dan Istri, Saya ingin memperkenalkan diri dahulu nama : H. Iwan Agung Dwi Saputra, Umur 46 tahun, pekerjaan sekarang adalah masih mencari kerja di oil & gas project sambil usaha Tiket Pesawat Online dan menjalankan usaha training di Pekanbaru. Tapi itulah semua usaha masih jalan di tempat dan mungkin kurang promosi.
Saya menulis kisah ini karena saya ingin juga berangkat Umrah atau Haji kembali baik tahun ini ataupun tahun depan karena hanyalah Allah yang tahu karena dari segi materi nampaknya saya belum punya uang untuk berangkat. Kalau sekarang yang penting niat dulu aja. Siapa tahu pembacar blog ini akan mendoakan semoga do'a- do'a saya terwujud
Dan Saya menulis cerita ini hanyalah ingin
berbagi kisah-kisah yang menarik yang pernah saya alami sewaktu menunaikan
Ibadah Haji di tahun 2014 yang lalu. Cerita-cerita yang saya tulis ini bukan
untuk bermaksud untuk riya atau pamer tentang kebesaran Allah dan kemudahan
yang Allah berikan ketika saya menjalankan ibadah Haji tapi sekedar berbagi
kebaikan sesame muslim.
Sudah lama sebenarnya saya ingin berbagi
cerita tentang kisah-kisah yang saya alami selama sekitar sebulan mencari
Hidayah Allah baik dalam perjalanan maupun selama di Makkah dan Madinah untuk
menjalankan ibadah Haji.
Sebenarnya cerita-cerita yang saya tulis
ini tidak ada istimewanya dan hanyalah kisah biasa yang dialami orang-orang
yang menjalankan ibadah Haji.
Keinginan untuk berbagi cerita lewat
buku ini sebenarnya sudah lama tapi kadang ada pertentangan di dalam bathin
saya apakah saya harus menulis cerita itu atau tidak menulis cerita itu. Ada
rasa ingin berbagi menceritakan tentang kebaikan Allah kepada saya, tapi kadang
ada kalanya merasa apa yang ingin saya sampaikan merupakan cerita pamer bahwa
saya merasa dekat dengan Allah sewaktu menunaikan ibadah Haji tahun 2014 yang
lalu.
Kami berangkat Haji pada tanggal 12
September 2014 dari Sydney Australia via Jakarta dan kembali dari Haji tanggal
9 Oktober 2014 dari Jeddah ke Jakarta. Dan kembali ke Sydney Australia dua hari
sesudahnya.
Sebenarnya inti saya bercerita lewat
buku ini adalah bilamana kita menjadi orang baik, mau bersedekah, mau berbagi,
mau menolong orang. Insha Allah akan diberikan kemudahan saat melaksanakan
ibadah Haji. Karena pahala yang kita peroleh saat kita berbuat baik, akan
memudahkan langkah kita atau akan mengawal kita saat kita menunaikan ibadah
Haji.
Tidak semua orang bisa berbuat baik
ataupun sedekah karena semua itu harus ikhlas dalam hati dan tulus, dan hanya
karena semuata-mata ingin menambah pahala dari Allah.
Saya bukanlah ingin bercerita mengenai
kekuatan sedekah saya sehingga dengan mudah berbuah manis dengan kemudahan
menunaikan Ibadah Haji tahun 2014 yang sebenarnya tidak pernah saya rencanakan
sebelumnya. Karena kami berencana untuk naik haji di tahun 2015 tapi berhubung
istri saya punya alasan mau menulis skripsi maka kami berangkat haji di tahun
2014.
Almarhum Bapak saya yang mengajarkan
saya bagaimama bersedekah, menyantuni anak yatim dan piatu. Karena setiap hari
raya Idul FItri tiba, Bapak saya selalu memberikan uang untuk anak yatim/piatu.
Itu dilakukan Almarhum sejak saya masih kecil. Dan itulah menginspirasi saya
untuk selalu bersedekah dan menyantuni anak-anak yatim dan piatu. Anggap saja
kalau saya merasa rejeki yang saya miliki adalah sebagian rejekinya anak-anak
yatim. Jadi setiap ada uang lebih yang dihasilkan dari usaha saya, selalu saya
sisihkan 10% untuk menyantuni anak-anak yatim. Dan kadang kala saya punya keinginan untuk tidak berbagi rejeki
tapi selalu saya ada permintaan bantuan yang disodorkan kepada saya. Sehingga
mau tak mau saya harus mengeluarkan atau berbagi rejeki dengan anak-anak yatim
dan piatu.
Naik Haji ke Makkah merupakan keinginan
seluruh umat muslim yang ada di dunia. Dan tidak mudah untuk berangkat Haji itu
karena kita harus ikhlas lillahitaala atau kadang juga tanpa kita sadari kita
sudah diundang untuk berangkat haji dengan cara yang mungkin sebenarnya tidak
bisa masuk ke alam pikiran manusia. Dan hanyalah Allah lah yang tahu rahasia
itu dan kita sebagai mahluk ciptaannya hanya bisa menjalani perintahnya dan
menjauhi larangannya.
Tidak Mudah Untuk Memutuskan Berangkat
Haji
Kami berencana untuk Naik Haji di
tahun 2015 dimana di tahun itu harapannya kami mempunyai cukup uang untuk biaya
keberangkatan haji, biaya untuk anak-anak yang ditinggal di Canberra dan juga
biaya untuk mendatangkan orang tua/ mertua untuk menjaga anak-anak kami. Jadi
semua sudah di di awal tahun dan Istri
saya yang mempunyai inisiatif untuk berangkat haji di tahun 2015 dan dari
Australia. Tapi kami belum mendaftar tapi istri saya sudah bertanya-tanya dan
mencari agen tour Haji di sekitaran Sydney.
Tapi rencana hanya tinggal rencana
karena tiba-tiba suatu hari di bulan Maret 2014, istri saya mengajak saya untuk
naik haji di tahun 2014 dan membatalkan rencana untuk berangkat haji di tahun
2015. Alasannya adalah karena istri saya akan menulis tesisnya dan tahun 2015
adalah jadwal paling sibuk buat istri saya mengingat tahun 2015 adalah tahun
terakhir istri saya kuliah di Australia.
Waktu itu Istri saya adalah
Mahasiswa S3 di ANU Canberra dan istri saya mendapatkan beasiswa dari
Pemerintah Australia untuk melanjutkan kuliah di Australia tanpa bayar. Istri
saya mengambil study Medical Research mengambil tema Liver Cancer. Sedangkan
saya adalah seorang Cleaning Service yang bekerja di ISS Facilities Services di
areal ANU. Karena peluang kerja untuk posisi yang sesuai dengan bidang yang
saya geluti yaitu piping design engineering tidak bisa saya lamar karena visa
saya adalah visa spouse student. Karena untuk bekerja sebagai engineer di
Australia, syaratnya minimal PR atau mempunyai working visa. Karena saya tidak
mempunyai itu semua akhirnya saya melamar semua posisi yang ada. Sehingga
Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan sebagai Cleaner dan terakhir kerja di
ISS Facilities Service Australia. Anak kami ada 2 orang dan semuanya laki-laki
dan mereka semua sekolah di Canberra tanpa biaya / gratis.
Saya mendengar permintaan istri saya
itu langsung saja saya jawab, saya tidak bisa berangkat tahun ini karena tidak
mempunyai cuti yang cukup sehingga ada kemungkinan saya bakalan kehilangan
pekerjaan dan juga saya merasa dalam Hati, saya masih belum siap untuk
berangkat haji tahun itu. Dan saya minta ke istri untuk melaksanakan sesuai
planning yang kami buat bersama yaitu Berangkat Haji tahun 2015. Ada sedikit
pertengkaran mengenai berangkat haji itu dimana kami juga ada sedikit masalah
di biaya Haji karena uang yang kami punya pas-pas an saja. Tapi istri saya
mempunyai tekat bulat untuk berangkat Haji tahun itu walau saya menolaknya.
Tapi saya tidak melarang istri saya untuk berangkat haji tahun ini karena istri
saya punya teman berangkat bareng yaitu Mbak Ida.
Istri saya mendaftar haji di salah
satu agen yaitu Raudoh Hajj Umroh Australia. Saya nggak bisa melarang istriku
untuk berangkat haji tahun 2014 lalu karena memang saya tidak punya rencana
untuk naik haji dibarengi rasa takut akan kehilangan pekerjaan dan ketidak
siapan saya untuk menjadi seseorang yang bagus ibadahnya karena kadangkala aku
lalai dalam menjalankan ibadah kepada Allah.
Istri saya sudah siap berangkat haji
dan biaya sudah hampir lunas. Istri saya berangkat bersama 6 orang lainnya dari
Canberra dengan Agen yang sama. Istri saya mendiamkan saya dan hanya seperlunya
bicara. Saya pun banyak ditanya teman-teman bahkan mertua, kenapa tidak naik
haji bareng istri. Dan kujawab “saya belum siap”. Dan mereka pun diam
Akhirnya ada peristiwa yang menggugah
hati saya dan akhirnya saya memutuskan untuk berangkat Haji dan tapi rasanya
itu tidak mungkin mengingat sekitar 3 bulan lagi, jemaah haji akan berangkat ke
Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Saat
itu ada manasik haji di rumah salah satu calon jemaah haji di Canberra. Dan
istri saya ikut hadir tapi saya tidak karena tidak ada rencana dan masih ragu.
Tapi keesokan harinya, pembimbing calon jemaah haji itu yang bernama Ustaz Ari
menjadi penceramah di salah satu group pengajian yang namanya Group Pengajian
Keluarga dan pelaksanaannya di rumah saya dan istri saya lagi-lagi punya
rencana untuk ngadain di rumah karena istri saya tahu kalau saya orangnya
kurang inisiatif dalam melakukan sesuatu dan hanya menunggu.
“Kenapa Mas tidak mau Naik Haji?”
“Apa tidak kasihan sama istrimu berangkat sendiri tanpa muhrimnya?” Tanya ustaz
Ari
“
Saya belum siap Pak Ari..dan cuti saya tidak cukup untuk berangkat haji tahun
ini dan rencana saya tahun depan dan nggak apa-apa saya berangkat sendirian”,
jawab saya.
“Kok
kamu takut kehilangan pekerjaan, apa mas ragu dengan janji Allah, dimana Allah
akan melipat gandakan rejeki umat manusia yang datang memenuhi panggilan Nya”
“Kalau
perkara siap dan tidak siap itu tergantung manusianya dan manusia tidak akan
pernah siap untuk berangkat ke sana” kata ustaz Ari..
Akhirnya
setelah saya berpikir lagi dan mencoba mengikhaskan diri bilamana nanti
kehilangan pekerjaan dan kena ganjaran waktu menunaikan ibada haji, karena
katanya Allah akan memberikan ganjaran kepada manusia bila mereka lalai dalam
memenuhi kewajibannya sebagai seorang Muslim
“Baiklah
Pak Ari, saya siap berangkat haji dan kasihan juga kalau istri saya berangkat
sendirian tapi dengan syarat saya harus satu group dengan istri saya kalau
tidak saya tidak mau”, jawab saya kepada Ustaz Ari.
Sebenanrya saya tidak tahu bahwa di
Australia itu banyak agent Perjalanan Haji baik itu Labaik Group, Adam Hajj ,
BMA dan lain-lain dan saya pikir Ustaz Ari ini adalah bagian dari Pembimbing
Haji yang dipunyai orang Australia yang mungkin saja bisa mengatur supaya saya
bisa satu rombongan sama istri tapi tahunya Pak Ari ini hanya mewakili Group
Raudoh Hajj saja dan tidak mewakili yang lainnya. Saya tahunya yaitu pada saat
saya mau Manasik Haji terakhir di Raudoh Hajj Sydney dan Raudoh Group ini
rupanya punya perwakilan di Seluruh Australia.
Kenapa kami memutuskan berangkat
haji dari Australia, yaitu karena kemudahan yang dimiliki yaitu tidak harus
menunggu lama-lama seperti di Indonesia yang mana harus menunggu 10 atau 15
tahun lagi. Tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi walaupun pakai student
visa yaitu tidak di Australia minimal 2 tahun dan visa kami mulai awal Januari
2012 dan bilamana di tahun 2014 menjadi selisih 1 tahun dan masuk syarat untuk
berangkat Haji di Tahun 2014 itu. Sedangkan syarat-syarat lain sama seperti di
Indonesia.
Tidak semua orang bisa Naik Haji dan
hanya orang-orang yang beruntunglah yang bisa mendapatkannya. Dan mungkin kami
adalah sebagian dari orang-orang yang beruntung itu. Karena mendapatkan peluang
untuk naik haji dari orang-orang yang tidak beruntung itu. Kenapa saya katakan
tidak beruntung? Karena banyak orang muslim yang berkeinginan untuk pergi haji
dan mereka telah mendaftar dan telah membayar lunas semua biaya keberangkatan
haji tapi mendadak tidak jadi berangkat. Bisa karena meninggal, bisa Karena
sakit, bisa karena hamil dan bisa karena macam-macam alasan. Dan hanya Banyak
orang yang kecewa karena tertunda untuk pergi haji tapi bila kita kembalikan
lagi bahwa kita pergi haji atas karena kehendak Allah dan memenuhi panggilan
Allah, tentunya rasa ikhlas untuk menerima kalau tidak bisa naik haji akan
segera muncul dan mencoba kembali membenahi ibadahnya agar lebih baik dan bisa
diterima oleh Allah.
Begitupun dengan kami akhirnya bisa
berangkat haji karena ada orang yang mundur dan tidak jadi berangkat dengan
alasan-alasan tertentu. Dan tentunya kami memperoleh keberuntungan bisa naik
haji dari orang-orang yang tidak beruntung tadi. Menjelang keberangkatan Haji,
kami berusaha menjaga ibadah kami, melakukan sholat malam, perbanyak
bersedekah, melakukan perbuatan baik, baik itu kepada sesama manusia maupun
mahluk lainnya. Kami melakukan itu untuk menjaga peluang kami agar tetap
menjadi orang yang beruntung dan mendapat ridho Allah untuk naik haji di tahun
2014 itu.
Alhamdulillah, Akhirnya saya bisa naik
haji bareng dengan istri saya dimana seminggu kemudian setelah berjumpa dengan
Ustaz Ari. Teman saya telp dan mengabarkan bahwa ada 1 seat kosong karena ada
yang mendadak batal, dan dia berusaha untuk menelpon istri saya tapi istri saya
sedang sibuk bekerja dan jadinya dia langsung telpon ke saya. Akhirnya saya
mendaftar untuk naik Haji dengan agent perjalanan haji yang sama dengan istri
saya dan Alhamdulillah, do’a saya terkabulkan.
Tapi sebenarnya banyak juga kendala bagi
saya untuk naik haji dimana saya harus rela bilamana saya harus kehilangan
pekerjaan bilamana nanti sekembalinya saya dari Saudi Arabia. Tapi saya tetap
ingat saja dengan yang ustaz Ari bilang mengenai janji
Allah. Jadi saya
ikhlaskan saja bilamana saya harus kehilangan pekerjaan sebagai cleaner di ISS.
Saya bekerja sebagai cleaner di ISS
Facilities Services Australia dan lokasi kerjanya di Kampus ANU (Australian
National University) di Canberra. Saya bekerja dari pagi sampai sore. Di pagi
hari saya bekerja sebagai supervisor Cleaner dan siang hari saya bekerja
sebagai pembersih sarang laba-laba di gedung-gedung yang ada di lingkungan
Kampus selain pekerjaan-pekerjaan lain atas permintaan Client bilamana
diperlukan. Sebenarnya saya takut untuk naik haji karena takut dengan ganjaran
yang diberikan oleh Allah bila saya berada di tanah suci Makkah dan Madinah,
karena setiap hari saya membersihkan sarang laba-laba dan secara tidak sengaja
pun membunuh laba-laba. Itu yang sangat saya khawatirkan sekali. Tapi saya
ikhlaskan juga dan mohon ampun kepada Allah karena saya tidak punya pekerjaan
lain selain membersihkan sarang laba-laba di siang hari di areal Kampus ANU.
Apalagi dengan menggunakan visa spouse student dan dengan kemampuan bahasa
englihs yang terbatas, rasanya sulit bagi saya mencari pekerjaan yang lebih
baik selain bekerja sebagai cleaning service.
Selain takut kehilangan pekerjaan
dan juga kerja membersihkan sarang laba-laba, juga saya khawatir dengan amal
ibadah saya juga, dimana saat menjalankan sholat lima waktu masih bolong-bolong
dan masih tidak rajin membaca Al Qur’an dan intinya ilmu agama saya masih
kurang bilamana saya naik haji. Dan semua kekhawatiran itu selalu saya pikirkan
sepanjang persiapan untuk berangkat Haji.
Selain kendala pribadi juga ada
kendala dalam kepengurusan visa untuk haji dimana sampai batas waktu rencana
keberangkatan kami, visanya belum selesai alias passport masih tertahan karena
visa belum selesai juga diurus. Istri saya yang rencana berangkat duluan ke
Jakarta, untuk menghadiri pernikahan sepupunya di Medan, akhirnya batal
berangkat dan akhirnya berangkat bareng dengan saya di tanggal 10 September
2014 dan dengan penerbangan yang sama. Banyak teman-teman jemaah haji di group
haji kami, yang akhirnya membatalkan keberangkatan karena visa haji belum
keluar juga dari embassy Saudi Arabia di Canberra.
Allah yang mengatur semua, akibat dari
istri saya tidak jadi berangkat tanggal 6 September 2014, maka istri saya
sempat bertemu dengan orang tuanya di Canberra. Kami sebelum memutuskan untuk
berangkat haji, meminta tolong kepada mertua saya untuk bisa menjaga anak-anak
kami selama kami naik haji. Dan Alhamdulillah, Beliau menyanggupinya dan Kedua
mertua saya akhirnya berangkat tanggal 8 September 2014 dari Indonesia dan
Sampai tanggal 9 September 2014 di Canberra. Dan istri saya yang menjemput
mereka berdua, dikarenakan saya bekerja. Dan bilamana istri saya jadi berangkat
tanggal 6 september 2014, tentunya saya yang harus menjemput dan istri saya
tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya sebelum kami berangkat Haji.
Hari Rabu, 10 September 2014, kami
berangkat dari Ke Indonesia. Dengan rute perjalanan naik bus Murray berangkat
jam 4 pagi dari Canberra dan tiba di Sydney International Airport sekitar pukul
9 pagi. Setelah menjalani process check in dan process lainnya di Bandara
tersebut akhirnya kami berangkat ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Garuda
Indonesia. Dan tiba di Jakarta sekitar pukul 4 sore.
Pekanbaru, 17/04/2014
H. Iwan Agung Dwi Saputra
Langganan:
Postingan (Atom)
WUKUF DI ARAFAH SEPERTI DI TAMAN SURGA
Saya mencoba ngeshare lagi pengalaman sewaktu menunaikan ibadah haji tahun 2014 yang lalu dan kali ini cerita mengenai pengalaman sewaktu wu...
-
Saya mencoba menshare pengalaman Ibadah Haji tahun 2014 lalu dan kali ini mengenai semprotan air. Semprotan air ini dengan kipas di atasn...
-
Assalammualaikum, Ini kisah adalah cerita sebenarnya saat penulis tengah menjalani Ibadah Haji tahun 2014. Ketika itu saat di Madinah. Tib...
-
Saya mencoba ngeshare lagi pengalaman sewaktu menunaikan ibadah haji tahun 2014 yang lalu dan kali ini cerita mengenai pengalaman sewaktu wu...